Thursday, April 30, 2020

Move on dengan Maksimalisasi Pikiran Bawah Sadar Manusia




Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, termasuk hal terburuk sekalipun. Gue ketemu dia di saat gue sedang hancur-hancurnya. Gue pernah hancur sebelumnya, berkali-berkali, berulang kali. Tapi, kehancuran kali ini benar-benar total setotal-totalnya. Tapi bukan gue namanya kalau hancur gue terlihat di permukaan. Gue tetap jadi sosok terceria, yang bisa hahahihi sana-sini, jadi tempat curhat banyak orang, dan berbagai peran "bahagia" lainnya. Sampai waktu kami berjumpa untuk kongkow-kongkow setelah setahun gak ketemu, pertanyaan pertama yang doi tanyakan ke gue adalah "gue lihat lu gak baik-baik aja, ada apa?" Gue kaget dong, secara waktu itu gue selalu ngakak maksimal, suasana juga happy banget, tapi doi kok bisa nebak kayak begitu?? Ah ya, gue lupa, doi master psikologi. Walau secara tampilan gak keliatan sih. Jadilah akhirnya, sesi lepas kangen itu berubah jadi sesi curhat. Kapan lagi ya kan, bisa konsul ke psikolog lulusan Eropa gratisan, udah gitu dibayarin ngopi pulak. Ada beberapa trik yang doi saranin ke gue, berikut gue urai, sapa tau kalian-kalian yang sedang hancur butuh pencerahan.

Pikiran manusia terbagi atas 3, yaitu: pikiran sadar, pikiran bawah sadar, pikiran tidak sadar. Pikiran sadar itu ketika manusia beraktifitas sehari-hari saat area kritis manusia aktif 100%, seperti: belajar, bekerja, mencari nafkah, dan lain-lain. Pikiran bawah sadar, area kritis manusia sudah melemah, biasanya di saat manusia berada di situasi santai, bahagia, rileks, dan sejenisnya. Sedangkan pikiran tidak sadar, saat manusia tidak sadar sama sekali, dan area kritisnya juga sudah tidak aktif sama sekali, contohnya waktu kondisi tidur atau tidak sadarkan diri.

Memasukkan sugesti yang terbaik adalah ke pikiran bawah sadar. Dimana persentasenya 8 kali lipat pikiran sadar. Apapun yan lu mau sugestikan ke diri lu sendiri, pikiran bawah sadar lu lah yang harus lu masuki. Pikiran bawah sadar lu aktif waktu lu lagi rileks dan happy. Kata doi, golden time menyugesti pikiran bawah sadar lu adalah malam waktu lu mau tidur dan pagi waktu lu baru melek bangun tidur.

Trus, doi nanya ke gue, sugesti apa yang gue ingin masukkan ke diri gue sendiri. Gue jawab, gue ingin lepasin sakit yang gue rasain, maafin dan ngelupain orang yang nyakitin gue. Gampang kata doi, gue bantu treatment lu, 2 minggu paling lama sugesti lu bakal berhasil. Akhirnya gue setuju, gue juga selama ini kebingungan gimana supaya bisa lepas dari belenggu ini. Who knows, doi yang Tuhan kirim buat jadi penawar sakit gue, eaaaaa.

Sejak malam itu, setiap malam sebelum tidur, doi luangin waktu buat gue, ngobrol ngarol ngidul kemana-mana. Gitu juga paginya, waktu gue melek, buka HP, doi udah kirim foto selfie muka nya. Awal-awal, gue yang gak bisa tidur semalaman, doi temenin sampai pagi. Pelan-pelan ngantuk gue mulai rutin datang, makin cepat, dan makin cepat, sampai sekarang jam tidur gue udah normal. Pelan-pelan sumpah serapah buat bangsat-bangsat itu hilang, berganti rasa syukur bisa bertemu manusia-manusia seperti mereka. Pandangan hidup yang sebelumnya sudah ga jelas, pelan-pelan mulai membaik, dan gue kembali punya target-target baru yang gue pengen wujudin. 

Sekarang, sudah lewat dari waktu treatment yang doi jadwalkan buat gue. Tapi, ngobrol ngarol ngidul cekikikan ga jelas sebelum tidur, atau foto selfie yang 1 screen isinya muka doi semua setiap pagi masih berjalan. Ada kendala sih sekali-kali, signal internet yang kurang bagus misalnya, dan faktor teknis lainnya. Apa yang bisa gue lakuin?? Ngamuk-ngamuk, marah-marah, caci-maki?? Ah tentu tidak, karena jiwa bar-bar seperti itu bukan the real me. Gue udah kembali ke seperti gue yang seharusnya. Yang gue lakuin adalah ngebuka channel youtube doi, atau medsos doi. Gue bener-bener jadi rileks ngeliat aktifitas doi, denger cekikikan doi, denger doi ngecover lagu-lagu kesukaan doi, dan semua postingan-postingan dengan caption bikin ngakak. Ketika sudah rileks, gue segera bisikkan sugesti dan affirmasi positif ke diri gue. 

Sugesti dan afirmasi positif itu tentu diiringi syukur ke Tuhan. Untuk semua pelajaran dalam hidup gue, sekaligus untuk penawarnya yang selalu lebih manis daripada pelajaran itu sendiri. Terima kasih juga untuk menganugrahkan dia cekikikan yang selalu menulari.

No comments:

Post a Comment

De Javu

Istilah de javu berasal dari bahasa Perancis yang berarti 'sudah terlihat'. Istilah ini biasanya digunakan untuk kondisi ketika sese...