Monday, April 20, 2020

Reduksi Makna Tato

Butterfly on tattoos
Sumber: Dok pribadi Mas Mister
Mungkin hingga hari ini, orang-orang yang ditubuhnya terrajah tato masih mendapatkan stigma yang kurang bagus di masyarakat. Baik di Indonesia maupun di belahan bumi yang lain. Kalau di Indonesia, orang-orang yang bertato akan sedikit kesulitan ketika mendaftar sekolah ataupun mendapatkan pekerjaan, apalagi tato berukuran besar pada bagian tubuh yang terlihat. Di Jepang, selain sedikit susah buat dapatin pekerjaan, orang yang bertato juga ga dibolehin masuk ke kolam renang umum atau ke pusat kebugaran. Di Amerika Serikat yang terkenal sebagai negara yang bebas untuk berekspresi sekalipun juga masih mengatur penggunaan tato bagi tentaranya. Gitu juga dengan beberapa negara lain yang masih memposisikan orang bertato setara dengan pelaku kriminal dan stigma negatif lainnya.

Jika kita baca lagi berbagai referensi sejarah, seni merajah tubuh ini udah ada dari ribuan tahun lalu. Mulai dari kerajaan Mesir, Yunani, Persia, Romawi, dan kerajaan lainnya. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya mumi berusia ribuan tahun yang memiliki rajah di permukaan kulit mereka. Di Indonesia sendiri, tato juga merupakan sebuah produk kebudayaan bernilai tinggi, seperti di  suku Dayak dan suku Mentawai. Pada fase-fase ini, tato bermakna sebagai penanda kelompok, pelambang kekuatan, kekuasaan, dan strata sosial.  

Kemudian makna tersebut mengalami pergeseran. Tato yang merupakan entitas kelompok tertentu yang memiliki kekuasaan dan kekuatan mulai diidentikkan dengan kekerasan. Tentu saja dikarenakan tato menjadi simbol kekuatan dan kekuasaan tersebut membuat kelompok yang merasa dirinya penguasa akan menggunakan tato sebagai salah satu cara untuk menakuti rival-rivalnya.

Tampang Rambo tapi hati Bimbo :D
Sumber: Dok pribadi Mas Mister
Maka tidak heran pada masa orde baru yang menumpas pelaku kejahatan dengan cara penembakan misterius (Petrus) menyasar orang-orang yang bertato, karena dianggap orang-orang bertato adalah pelaku kejahatan. Memang sih, pada waktu itu sebagian besar preman menggunakan tato. Tato mereka pakai sebagai identitas kelompoknya yang kemudian membuat pemerintah pada zaman itu memasukkan tato sebagai salah satu list target sasarannya. 

Belajar bertani, biar otot kepake
Sumber: Screenshoot status medsos mba nya :D
Tato terus mengalami pergeseran makna hingga hari ini. Walaupun stigma negatif masih tersemat, tapi tato sudah bisa mendapatkan tempat yang lebih baik di mata masyarakat dunia. Tato sudah mulai dianggap sebagai salah satu produk seni, dibuat untuk unsur kesenangan, hiasan, dan simbol kaum muda. Terlepas dari pergeseran makna yang terus terjadi tersebut, menurut gue tato gak bisa dijadikan patokan terhadap baik dan buruknya seseorang. Setiap orang berhak untuk mengenakan tato sebagai salah satu ekspresi dan pembentukan identitas dirinya. Asalkan orang tersebut bisa bertanggung jawab dengan tato yang telah ia lekatkan pada dirinya, agar sarana ekspresinya tersebut tidak dimaknai buruk oleh orang lain. Banyak kok orang bertato tapi berkelakuan baik, dan gak dikit juga orang yang keliatan baik tapi bangsat. So, siapa kita yang bisa nuding orang lain hanya dari penampakan luarnya saja???

#Tango D

No comments:

Post a Comment

Kehilangan dan Alam

Dunia dan segala isinya adalah fana. Kepercayaan apa saja meyakini hal ini. Apapun yang ada di muka bumi ini adalah milik Sang Pencipta...