Friday, November 15, 2019

Cara dari Vietnam ke Kamboja Via Darat (Bus)


Setelah semalam di Ho Chi Minh City (HCMC) atau yang dulunya disebut juga dengan nama Saigon, tujuan saya selanjutnya adalah negara tetangganya, Kamboja. Destinasi pertama di negara tetangga Vietnam ini adalah ibukota-nya, Phnom Penh. Dikarenakan jarak antara kedua kota ini tidak terlalu berjauhan, maka saya memutuskan untuk menggunakan jalur darat saja (naik bus). Gampang kok caranya, dan tidak semenakutkan yang dibayangkan. Berikut cara-cara ke Kamboja dari Vietnam menggunakan bus.
1. Bagusnya turun dimana?
Ada banyak provider bus yang menyediakan rute dari Ho Chi Minh City ke kota-kota yang ada di Kamboja, biasanya kota tujuannya adalah Phnom Penh atau Siem Reap. Sebaiknya, ambil stop di Phnom Penh saja, nginap semalam dan bisa eksplor Phnom dulu sebelum lanjut ke Siem Reap. Ya, walaupun ngambil bus tujuan Siem Reap, ntar di Phnom Penh kita diturunin juga kok di Phnom Penh trus ntar dioper ke bus lain. Kalau saya emang diniatin mau mampir dulu di Phnom Penh, toh bakal melintasi juga kok, itung-itung istirahat dulu lah.

2.  Provider apa? Harga berapa?
Provider bus yang melayani rute ini juga bermacam-macam dengan harga yang variatif juga. Saya sudah pernah mencoba bus The Sinh Tourist dan it was a best one. Tapi, sayangnya provider biru-putih ini ga punya trayek tujuan Kamboja. Memang sih di kantor The Sinh Tourist ada ngejual tiket bus ke Kamboja, tapi ntar kita diarahkan ke bus provider lain yang punya kerja sama dengan The Sinh Tourist tersebut. Harganya juga bervariasi, mulai dari 11 USD hingga 15 USD, tergantung dari bentukan bus nya lah, ada rupa ada harga. Dari hasil baca-baca beberapa referensi, maka bus yang paling direkomendasikan adalah Mekong Ekspress (harga 15 USD) dan Giant Ibis (harga 18 USD). Namun, pada hari H nya saya ga beli Mekong Ekspress tapi beli provider Long Phuong. Lohh kokk??? Iya, ada beberapa alasan sih. Alasan pertama soal Harga, bus Long Phuong cuma 11 USD, yang 4 USD (kalau pakai Mekong) sisanya bisa buat beli jajan :D. Waktu, setelah survey beberapa provider bus yang ada di sekitaran district 1 HCMC, maka waktu keberangkatan adalah yang paling sore, berangkat jam setengah 4 sore dari HCMC. Cocok lah sama saya yang masih mau ngelayap dulu di kota HCMC seharian itu. Jarak tempuh dan review, HCMC ke Phnom Penh itu cuma sekitar 5 - 6 saja, jadi gak terlalu butuh bus yang terlalu gimana banget lah, lagi pula review rangorang di dunia maya mengenai bus ini cukup baik kok.  Pembelian tiketnya bisa langsung dikantornya (berserakan) sepanjang district 1 atau beli secara online, harganya ga beda kok. 
Bus Long Phuong ijo royo-royo

Inside the bus
3. Bagusnya ambil yang jam berapa?
Kalau jam keberangkatan ini bisa disesuaikan dengan skejul masing-masing. Kalau saya, merencanakan hanya seharian aja di Phnom Penh, malah rencana awal gak pake nginap di sana, ambil bus malam, nyampe subuh, esplor, trus ambil bus malam berikutnya ke Siem Reap. Tapi apalah daya, ketika saya tanya-tanya, gak ada satupun bus yang punya jadwal keberangkatan malam hari. Paling sore ya bus Long Phuong itu, jam 4 sore dari HCMC. Hal ini dikarenakan pos imigrasi yang ada di border antara Vietnam dan Kamboja gak lagi buka 24 jam, hanya sampai jam 10 malam saja. Ok baik, disitulah seninya backpacking ya kan, harus siap berganti rencana dalam sekejap mengatasi kendala-kendala yang ada. Kenapa harus ambil jadwal bus yang jam 4 sore? ya karena dari pagi saya masih pengen ngider dulu di HCMC. Nah, buat kamu yang punya waktu cukup banyak dan bisa santai, ya bebas mau ambil jam berapa, mau ambil jam pagi biar nyampe Phnom Penh masih terang juga boleh kok. 

4. Kalau nyampe malam di Phnom Penh malam, serem gak?
Awalnya saya mikir juga iya, bakalan serem, karena mindset yang tertanam selama ini, Kamboja itu negara nya scammer, rawan kejahatan jalanan. Tapi, Alhamdulillah selama saya di Vietnam dan Kamboja aman-aman saja. Waktu berangkat pake bus paling terakhir (jam 4 sore) dari HCMC saya sampai di Phnom Penh jam 9 malam. Nanti kita akan diturunkan di kantor bus-nya. Memang sih, pas turun bus itu akan banyak sekali tukang tuk-tuk yang samperin dan nawarin jasanya. Tapi, jangan mudah tergiur ya dan jangan terlalu keliatan kaya kebingungan. Sering banget denger cerita turis yang kemahalan bayar tuk-tuk atau pun taksi konvensional. Sebaiknya order Grab aja, kalau sendiri. Bisa juga pakai Grab Tuk-tuk kalau ingin yang agak legaan. Jangan order Grab di pinggir jalan ya, riskan jambret banget loh itu. Sebaiknya masuk dulu ke dalam kantor bus, duduk tenang dulu, baru deh order Grab. Gak ada tempat yang benar-benar aman loh di dunia ini, jadi dimanapun berada tetap harus waspada ya. Begitu pun ketika naik kendaraan umum di Kamboja, tas dan barang bawaan sebagusnya dipeluk dan dipegang erat. Gak usah mainin HP deh di jalan raya, paling tidak biar orang jahat gak mikir kamu mangsanya sih.

Grab tuk-tuk bisa diorder via app Grab yang dari Indonesia
5. Sepanjang jalan nemu apa aja?
Gak jauh beda sih dengan pemandangan kita di Indonesia sih. Baru beberapa ratus meter keluar dari kota HCMC mata kita akan disambut oleh deretan rumah perkampungan di antara persawahan atau pun perkebunan, beberapa sungai dan kolam juga sih. Oh ya, jalanan di area Vietnam sudah aspal mulus sih, lumayan crowded juga dan berdebu. Namun, setelah lewat border imigrasi Kamboja, sebagian jalannya masih belum mulus. Begitu juga dengan rumah-rumah penduduk. Terlihat masih jauh dari kesan berada, kebanyakan rumah-rumah yang berada di pinggir jalan yang saya lewati adalah rumah-rumah sangat sederhana. Tapi hal itu terlihat sangat kontras di beberapa titik. Rumah-rumah sederhana tersebut ditingkahi dengan beberapa kasino dengan bangunan terbilang mewah dan lampu kerlap kerlip. Saya merasa aneh juga dengan perpaduan (baca ketimpangan) yang nyata terlihat ini. Eh iya, konon kabarnya lumayan banyak WNI yang bekerja di kasino-kasino tersebut lohh. 
Salah satu casino selepas keluar dari Bavet Border
6. Proses imigrasi gimana?
Dari sekian banyak pos imigrasi yang pernah saya lewati, maka pos imigrasi di perbatasan Vietnam dan Kamboja ini lah yang ter-deg-deg-an. Yah, gimana engga, dari awal naik bus di district 1 HCMC, saya udah ngerasa seperti alien di antara beberapa belas warga lokal yang hanya bisa berbahasa lokal mereka. Saya tidak paham dengan perkataan mereka dan begitu juga sebaliknya. Baru saja saya duduk, kernet bus langsung menghampiri dan bilang pasport, saya naikin alis trus nanya, what?? Pasport katanya lagi, sambil liatin pasport bersampul merah milik cowok bule yang duduk depan saya. Ternyata kernet bus itu minta saya nyerahin pasport saya ke dia. Trus saya nanya dong, buat apa??? Jangan harap dapat jawaban ya sodara-sodara, itu kernet langsung ambil pasport yang di tangan saya trus ngeluyur ke bagian depan bus dan nyuekin pertanyaan saya. Mulai detik itu, jantung saya berdansa lumayan kencang, ngomong dalam hati, gak boleh tidur, musti awasin itu kernet kemana aja. Sekalinya ketiduran, pasport dibawa kabur si kernet, kelar hidup lo :D
Bavet Border Cambodia
Tapi, kekhawatiran saya terlalu berlebihan sepertinya, lucunya hal ini baru saya sadari setelah bus mulai masuk ke wilayah Kamboja. Seluruh penumpang disuruh turun di Moc Bai Border (pos imigrasi di wilayah/border Vietnam). Tidak perlu membawa barang bawaan turun, cukup barang-barang berharga aja. Planga-plongo gak jelas dan kebingungan, saya cuma ngikutin ke arah mana penumpang lain jalan. Oh ternyata, pasport saya yang dikumpulkan bersama dengan pasport penumpang lainnya tadi telah tertumpuk rapi di meja petugas imigrasinya. Saya dan penumpang lain tinggal berbaris dan maju waktu nama dipanggil. Setelah nama dipanggil, nerima pasport, jalan keluar gedung, dan nyari bus di parkiran (gak jauh dari pintu keluar gedung). Lega dongggg, karena pasport udah di tangan. Jangan bahagia dulu bray, baru juga naik bus, dan bus jalan belum sampai 5 menit, penumpang disuruh turun lagi dan itu pasport dimintai lagi oleh si kernet. Trus, si kernet lari-lari ke arah belakang bus dannnnnnnn hilang. Iya, benar-benar hilang dan tidak terlihat ke arah mana dia tadi larinya. Lalu, supir bus nyuruh seluruh penumpang naik lagi, dan bus nya jalan....tanpa si kernet dong. OMG, jantung benar-benar disko, etapi penumpang lain sepertinya santai-santai aja hahahihi. Beberapa menit jalan, bus itu berbelok ke sebuah restoran dan berhenti, trus supir nya nyuruh turun lagi dan ngasih isyarat kayak orang nyuap makan, oh maksudnya kita di sini berhenti makan dulu. Saya ngikutin penumpang lain masuk ke restoran itu, kebetulan memang lumayan lapar. Sayangnya, hasrat makan saya batalkan, ini restoran non-halal ternyata.
Ntar di pasport ditempelin ini
pas keluar dari Kamboja dicabut lagi sama imigrasi-nya
Sekitar 5 menit setelah bus berhenti di restoran itu, saya lihat si kernet tadi lari-lari kecil dari arah kedatangan bus tadi. Sambil megang setumpuk pasport aneka warna, Alhamdulillah, nyawa saya selama di negeri orang pun kembali ke tangan dan telah ada stempel Bavet Border, Kamboja di dalamya. Penasaran dong, saya pun searching di internet, ternyata tadi itu dia ngurusin proses imigrasi kami di border imigrasi wilayah Kamboja, namanya Bavet Border. Seharusnya, setiap orang yang masuk ke sebuah negara ngurus sendiri kan?? Tapi tidak untuk kali ini, si kernet ngurusin nya secara massal, mungkin biar lebih cepat kelar juga. Yasshhhh, Welcome to Cambodia

No comments:

Post a Comment

Cara dari Vietnam ke Kamboja Via Darat (Bus)

Setelah semalam di Ho Chi Minh City (HCMC) atau yang dulunya disebut juga dengan nama Saigon, tujuan saya selanjutnya adalah negara tet...