Saturday, June 15, 2019

Sehari di Malaka, Kemana Aja? (Destinasi Wisata Melaka)


Setelah dari Penang, perjalanan saya lanjutkan ke Malaka, menggunakan bus. Perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan ongkos 50 MYR. Saya ambil bus yang berangkat jam 10 malam dari Terminal Komtar, Penang dan sampai di Melaka Central subuh besoknya. Lumayanlah, jadi bisa istirahat dan menghemat biaya hotel 1 malam, hehe. Saya tidak book penginapan di Malaka, karena cuma diniatkan day trip aja, dan sorenya nanti langsung ke Kuala Lumpur, dan balik ke real life, Indonesia. Malaka itu kota kecil, jadi kalau hanya punya 1 hari saja di sini, ya masih bisa lah datangin beberapa spot wajib di Malaka. Bus yang kita tumpangi akan berakhir di terminal bus Melaka Central. Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah mencari transportasi yang bisa membawa kita ke pusat kota. Buat para budget traveller, saya sarankan untuk pake bus saja, murce soalnya. Caranya, carilah ruang tunggu bus domestik, di sana sudah ada gate-gate bernomor sesuai dengan tujuan yang akan dituju. Tujuan paling favorit buat para traveller adalah Dutch Square/Red Square/Bangunan Merah/Kawasan Jonker Street, karena memang disana pusat wisata Malaka berada, kawasan stay turis juga sihhh. Kawasan ini berada di gate no 17, nama bus-nya Panorama, ongkosnya 2 MYR. Siapkan uang pas ya, karena tidak akan ada kembalian.
Baca juga : Cara ke Malaka


1. Dutch Square/Red Square

Dutch Square/Red Square adalah alun-alun kota Malaka yang bernuansa historis karena dikelilingi oleh bangunan-bangunan berasitektur keren peninggalan pejajah. Konon kawasan ini dulunya merupakan pusat pemerintahan kolonial. Disebut juga dengan Red Square, karena sesuai dengan warna bangunannnya yang didominasi oleh warna merah. Di Dutch Square ini ada beberapa destinasi yang bisa kita singgahi sekaligus.

Stadthuys
dutch square malaka
Stadthuys berarti balai kota. Jadi memang dulunya berfungsi sebagai kantor pemerintahan kolonial Belanda. Selain itu, Stadthuys juga dulunya adalah rumah kediaman gubernur kolonial Belanda dan para pejabatnya. Konon bangunan ini sudah ada dari tahun 1650. Sekarang, Stadthuys telah beralih fungsi menjadi museum. Untuk masuk ke museum ini, kita harus merogoh kocek sebesar 10 MYR, tapi kalau warga Malaysia hanya bayar 5 MYR saja. Dikarenakan hanya akan sehari saja di Melaka, maka saya putuskan tidak masuk ke museum ini, cukuplah foto-foto di sekitarannya saja. 

Christ Church
Persis di sebelah Stadthuys, ada sebuah gereja bernuansa klasik yang berwarna merah juga dengan lambang salib dan tulisan Christ Church Melaka di bagian atasnya. Gereja ini dibangun dari tahun 1740-an dan masih aktif hingga hari ini. Oya, selama berjalan santai di sekitaran bangunan merah ini, kita bisa melihat becak-becak wisata berseliweran dengan musik cetar mengelegar. Nahh, yang tertarik buat keliling dengan becak wisata ini, pangkalannya ada di depan gereja itu. Harganya 20 MYR untuk 30 menit dan bisa diisi berdua.

red square malakaQueen Victoria Fountain
Tidak jauh dari gereja merah itu, kita bisa temui sebuah air mancur yang tidak kalah klasiknya. Air mancur ini bernama Queen Victoria Fountain, sebuah air mancur yang dibangun untuk menghormati ratu Inggris, Queen Victoria. 

Clock Tower dan I Love Melaka
Berjalan sedikit lagi, kita bisa menemukan sebuah bangunan berupa tower yang terdapat jam di puncaknya. Bangunan ini dinamai Clock Tower. Senada dengan bangunan yang lain, bangunan Clock Tower ini juga berwarna merah. Nah, di sebelah Clock Tower itu, ada tulisan I Love Melaka yang belum sah ke Malaka kalau belum pose di situ. 


2. St. Paul's Hill
Bagian dalam St. Paul Church
Tidak terlalu jauh dari Stadthuy, ada pintu untuk menuju ke St. Paul's Hill, ada beberapa hal lagi yang bisa kita temui di atas bukit ini. Kita harus menaiki beberapa anak tangga untuk bisa sampai ke puncak bukit ini. Cukup banyak pohon di bukit ini, jadi cukup nyaman lah untuk dinaiki di siang hari. 

St. Paul Church
Sesampainya di puncak bukit, kita bisa menemukan reruntuhan bangunan yang dindingnya masih utuh berdiri namun tanpa atap. Bangunan ini adalah Gereja St. Paul. Gereja ini tidak digunakan lagi sebagaimana mestinya setelah Christ Church Melaka didirikan. Gereja ini dialihfungsikan menjadi pekuburan para pejabat Portugis dan Belanda. Aura horornya lumayan terasa kalau sedang berada di dalam bangunan gereja ini. 

Benteng A Famosa 
St.Paul's Hill
Turun beberapa anak tangga dari gereja ini, kita akan menemukan sebuah benteng yang bernama A Famosa. Benteng yang sudah berdiri dari abad ke-16 tersebut terlihat sangat gagah dan klasik, dilengkapi dengan meriam-meriam kuno menambah kesan gagahnya. 

3. Jonker Street
Nah, ini lagi salah satu tempat paling populer di Malaka. Dulunya dinamai Jalan hang Jeat, tapi lebih terkenal dengan nama Jonker Street. Di sepanjang Jonker Street ini kita bisa menemui jejeran banguna-bangunan klasik tapi masih terlihat kuat dan tertata rapi. Tapi sayang, jalanannya yang tidak terlalu lebar dijubeli oleh mobil-mobil yang berebutan dengan wisatawan. Jonker Street ini juga merupakan tempat kulineran di Malaka, ada banyak pilihan tempat makan maupun tempat jajan di Jonker Street seperti es cendol, chicken rice, aneka es, dan jajanan lainnya. 

4. Melaka River
Tidak terlalu jauh dari kawasan bangunan merah tadi dan  masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki, kita bisa menemukan Melaka River. Sungai yang tidak kalah bernilai sejarah tinggi di Malaka. Sungai ini bersih dari sampah, padahal di kiri-kanannya ada pemukiman. Entah kapan sungai-sungai yang ada di kota-kota besar di Indonesia memiliki sungai sebersih ini. Kalau punya waktu dan bajet yang cukup ada baiknya nyoba naik river cruise dengan harga tiket 30 MYR per-kepala. Lagi-lagi karena alasan waktu, saya hanya bisa menatap iri cruise-cruise itu mondar-mandir.
 
Jonker Street
 
Kiri-kanan sungainya padat pemukiman
tapi tetap bersih kan
Sebenarnya ada beberapa tempat lagi yang bisa kita datangi di Malaka, seperti mesjid terapung, kampung Morten, museum Maritim, dan lain-lain. Tapi sekedar mendatangi tempat-tempat ikonik Malaka seperti yang sudah saya jelasin di atas, satu hari saja cukup kok :)



1 comment:

  1. Iya bersih banget, padahal padat penduduk tapi sungainya bersih. beda dengan di Indonesia....

    ReplyDelete

Cara dari Vietnam ke Kamboja Via Darat (Bus)

Setelah semalam di Ho Chi Minh City (HCMC) atau yang dulunya disebut juga dengan nama Saigon, tujuan saya selanjutnya adalah negara tet...