Friday, March 1, 2019

Lisensia Puitika


Lisensia Puitika

Lisensia puitika pada umumnya diterjemahkan sebagai kebebasan penyair. Dasar pemahamannya adalah memberikan hak, kebebasan bagi penyair untuk tidak mentaati aturan-aturan tertentu dalam memanfaatkan bahasa. Dengan kalimat lain, untuk menyampaikan pesan, apabila dipandang perlu pengarang diperbolehkan untuk mengabaikan norma-norma kebahasaan. Dalam pengertian paling sederhana, semua karya sastra adalah lisensia puitika. Penggunaan perumpamaan, kiasan, dan simbol dalam berbagai bentuk pada sastra lama adalah kebebasan pengarang. Demikian pula dengan pemanfaatan bentuk bebas, bentuk baru, penyimpangan, bahkan karya sebagai alat untuk “berbohong” dalam sastra modern.


Lisensia puitika dibedakan menjadi dua macam, yaitu: a) lisensia puitika tradisional, cara penyajian sebagai akibat keterbatasan kata-kata, konsep, dan unsur-unsur budaya lainnya sehingga pengarang tidak memiliki pilihan lain, dan b) lisensia puitika modern, suatu kebebasan yang memang seharusnya dimanfaatkan, sebab dengan itulah aspek estetika dapat ditampilkan.

Ada beberapa indikator, mengapa lisensia puitika dilakukan:
a.     Hakikat karya sastra adalah hasil imajinasi, kreativitas subjektif. Dalam mencipta, seorang pengarang, seolah-olah tidak terikat oleh aturan formal dan logika formal karena semua aturan tersebut dianggap membatasi proses kreativitas.
b.     Karya sastra lahir karena diciptakan, dibuat, dan direka dari gejala yang tidak ada menjadi ada. Motto ‘penyair dilahirkan, bukan karena belajar’ (poeta nascitur, non fit) merupakan penjabaran secara langsung subjektivitas penulis tersebut.
c.   Kenyataannya pembaca menyadari sepenuhnya bahwa yang dibacanya adalah karya sastra, dan pembaca bersedia bersusah payah untuk memahaminya.

Contoh Lisensia Puitika
Salah satu contoh lisensia puitika
seharusnya: Aku ini adalah Binatang Jalang.
Akan tetapi, penyimpangan-penyimpangan tersebut tidaklah diartikan negatif. Sebab, penyimpangan tersebut digunakan sebagai cara untuk menyampaikan makna yang lebih dalam, sehingga tampil makna yang sesungguhnya. Jadi, penyimpangan tersebut justru bersifat positif. Penyimpangan-penyimpangan tersebut melibatkan banyak aspek, yang tentu saja didominasi oleh bahasa. Ada dua macam penyimpangan tersebut, yaitu: penyimpangan yang berkaitan dengan tradisi terdahulu, dan penyimpangan sebagai akibat kekhasan ekspresi subjek kreator. Kedua jenis penyimpangan tersebut, pada dasarnya diakibatkan oleh karena ketidakpercayaan pada bahasa yang aturan-aturannya disusun secara rasional, sedangkan sastra bersifat emosional. Oleh karena itu, untuk memenuhi hakikat ekspresivitas tersebut, maka norma-norma harus dilanggar.

Dalam sastra modern, penyimpangan memegang peranan yang sangat penting. Berbeda dengan pembaca sastra lama yang memperoleh kepuasannya melalui pengalaman yang sudah diketahui sebelumnya, pembaca sastra modern secara terus menerus ingin mengalami sesuatu yang baru, perbedaan, bahkan kejutan. Penyimpangan yang paling umum terjadi sebagai akibat efisiensi kata-kata, misalnya pelesapan kata-kata (kata sambung, kata depan, dan kata sandang), penggunaan istilah baru, pelanggaran tata bahasa, dan sebagainya. Tingkat penyimpangan pun bervariasi, tergantung zaman, periode dan genre sastra.

Dengan beranggapan bahwa lisensia puitika merupakan ciri karya sastra, sehingga kedudukannya sama dengan gaya bahasa itu sendiri. Maka pandangan bahwa lisensia puitika merupakan aspek negatif, harus dihilangkan, lisensia puitika justru memiliki ciri positif. Oleh karena itu, pengarang tidak harus menghindarkan diri dari pemakaian lisensia puitika, asalkan aspek-aspek penyimpangan yang dimasukkan berfungsi untuk meningkatkan kualitas estetis.


Referensi

Junus, Umar. 1989. Stilistik; Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Stilistika; Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.



1 comment:

Air Terjun Nyarai, Wisata Anti-Mainstream di Sumatera Barat

Jam Gadang di Bukittinggi, Pantai Gandoriah di Pariaman, Istano Pagaruyung di Batusangkar, atau yang katanya mirip Raja Ampat Papua wisa...