Monday, February 4, 2019

TINDAK TUTUR (SPEECH ACT); Definisi dan Jenis-Jenisnya


tindak tutur - speech act
Pragmatik merupakan ilmu yang mempelajari penggunaan bahasa dalam komunikasi, khususnya hubungan antar kalimat dan konteks dan situasi kalimat tersebut digunakan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Richards dkk dalam Dictionary of Lingusistics (1985: 225) bahwa Pragmatics is the study of of the use of the language in communication, particularly the relationship between sentences and the context and situations in which they are used. Dari kutipan ini, dapat dikatakan bahwa bila berbicara tentang pragmatik berarti berbicara tentang bagaimana penutur memilih bentuk-bentuk bahasa untuk mencapai tujuan bertutur (Gunawan dalam Revita, 2014: 18).

Baca juga : Perbedaan Pragmatik dan Sosiopragmatik, di sini.

Di dalam pragmatik kita akan juga mempelajari mengenai konsep tindak tutur (speech act). Ada 2 hal yang terdapat dalam konsep tindak tutur (speech act) yaitu tindak (speech) dan tutur atau tindakan (act). Dalam prakteknya, kedua hal ini bisa membentuk makna yang sama seperti yang dimaksudkan oleh si penuturnya, namun bisa juga berbeda bahkan berlawanan sama sekali. Hal ini tentu saja menimbulkan beragam tindak tutur yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk konteks dan tujuan penutur. Maka, pada blogpost kali ini akan dibahas apa yang dimaksud dengan tindak tutur (speech act) dan tipe-tipenya.

Pengertian Tindak Tutur

Ketika melakukan komunikasi, seorang penutur tidak saja mengucapkan tuturan atau ujaran (speech) saja, namun juga melakukan tindakan (act). Menurut Verharr (dalam Revita, 2014: 3), tindak tutur dalam ujaran suatu kalimat mengandung prinsip adanya kemungkinan untuk menyatakan secara tidak tepat apa yang dimaksud oleh penutur. Hal ini berkaitan dengan strategi atau siasat untuk membuat mitra tutur melakukan atau tidak melakukan sesuatu sesuai dengan isi ujaran yang disampaikan penutur.

Teori tindak tutur dikemukakan oleh dua orang ahli filsafat bahasa yang bernama John Austin dan John Searle pada tahun 1960-an. Menurut teori tersebut, setiap kali pembicara mengucapkan suatu kalimat, Ia sedang berusaha mengerjakan sesuatu dengan kata-kata (dalam kalimat) itu. Menurut istilah Austin (1965: 94), “by saying something, we do something”. Austin (dalam Subandowo, 2014: 26) mendefinisikan tindak tutur adalah sepenggal tutur yang dihasilkan sebagai bagian dari interaksi sosial. Mengucapkan sesuatu adalah melakukan sesuatu, dan bahasa atau tuturan dapat dipakai untuk membuat kejadian. Austin menegaskan bahwa tindak tutur berkaitan dengan analisis ujaran dalam kaitannya dengan perilaku penutur suatu bahasa dengan lawan bicaranya. Tindak tutur ini merupakan aktivitas komunikasi (tindak lokusi) yang didalamnya terkandung maksud yang ingin disampaikan pada saat berbicara (daya ilokusi suatu ujaran) dan efek yang diinginkan oleh penutur (perlokusi dari ujaran).

Sementara menurut Chaer dan Agustina (dalam Subandowo, 2014: 25), tindak tutur adalah gejala individual yang bersifat psikologis dan keberlangsungannya ditentukan oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu dengan memperhatikan makna dan arti tuturan. Tindak tutur ini lebih menitikberatkan pada makna atau arti tindak dalam suatu tuturan. Oleh karena itu, dalam setiap peristiwa tutur terdapat serangkaian tindak tutur yang terorganisasikan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Tindak tutur dapat berwujud pernyataan, perintah, maupun pernyataan. 

Jenis-Jenis Tindak Tutur

Secara analitis jenis, Austin (dalam Subandowo, 2014: 26) membedakan tindak tutur menjadi tiga macam, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi.

a.   Tindak Lokusi

Tindak tutur lokusi merupakan tindak mengucapkan sesuatu dengan kata dan kalimat sesuai dengan makna di dalam kamus dan menurut kaidah sintaksisnya. Tindak lokusi adalah tindak tutur yang relatif paling mudah untuk diidentifikasikan, karena pengidentifikasiannya dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur. Menurut Rahardi (2007:71), tindak lokusioner adalah tindak tutur dengan kata, frasa, dan kalimat sesuai dengan makna yang dikandung oleh kata, frasa, dan kalimat tersebut. Dalam tindak lokusioner tidak dipermasalahkan maksud dan fungsi tuturan yang disampaikan oleh si penutur. Contoh, tuturan yang berbunyi “tanganku gatal”, secara lokusioner dimaksudkan sebagai pernyataan yang menggambarkan kondisi fisik si penutur yang sedang merasakan gatal pada tangannya.

Tindak Tutur
Tindak lokusi adalah tindak tutur yang paling mudah diidentifikasi
Berdasarkan kategori gramatikal, bentuk tindak tutur lokusi bisa dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Bentuk Pernyataan (Deklaratif)
Bentuk pernyataan berfungsi hanya untuk memberitahukan sesuatu kepada orang lain sehingga diharapkan pendengar menaruh perhatian.
2. Bentuk Pertanyaan (Interogatif)
Bentuk pertanyaan berfungi untuk menanyakan sesuatu sehingga pendengar diharapkan memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh penutur.
3. Bentuk Perintah (Imperatif)
Bentuk imperatif memiliki maksud agar pendenar memberi tanggapan berupa tindakan atau perbuatan yang diminta.

b. Tindak Ilokusi 

Tindak tutur ilokusi Adalah tindak tutur yag mengandung maksud, hubungannya dengan bentuk-bentuk kalimat yang mewujudkan suatu ungkapan. Menurut Rahardi (2008: 35), tindak tutur ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu. Tindak tutur ilokusi ini biasanya berkenaan dengan pemberian izin, mengucapkan terimakasih, menyuruh, menawarkan, menjanjikan, dan sebagainya (Chaer dalam Subandowo, 2014: 29).

Tindak Tutur
Tindak Ilokusi lebih sulit diidentifikasi karena
berkaitan dengan konteks, maksud, dan fungsi tuturan
Berbeda dengan tindak tutur lokusi, tindak tutur ilokusi merupakan tindak tutur yang mengandung maksud dan fungsi atau daya tuturan. Tindak tutur ilokusi tidak mudah untuk diidentifikasi, ini berkaitan dengan siapa bertutur ke siapa, kapan, dan dimana tindak tutur itu dilakukan, dan sebagainya. Contohnya, pada tuturan “tanganku gatal”, disampaikan oleh si penutur bukan semata-mata untuk menggambarkan kondisi tangannya yang sedang merasakan gatal, namun lebih dari itu, bahwa si penutur melakukan tindakan tertentu yang berkaitan dengan rasa gatal. Misalnya mengambilkan obat penghilang rasa gatal, dan lain-lain.

Searle (dalam Subandowo, 2014: 30) mengelompokkan tindak ilokusi menjadi lima jenis, yaitu:
1. Asertif (assertives)
Tindak tutur yang menggambarkan keadaan atau kejadian, seperti laporan, tuntutan, dan pernyataan. Contoh: “Ujian Akhir Semester dimulai pukul tujuh tepat.”
2.   Direktif (directive)
Bentuk tuturan yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan seperti saran, permintaan, dan perintah. Contoh: “Silahkan duduk!”
3. Ekspresif (expressive)
Tindak tutur yang digunakan oleh pembicara untuk mengungkapkan perasaan dan sikap terhadap sesuatu. Contoh: “Mahasiswa itu ganteng sekali.”
4. Komisif (commisive)
Bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan sesuatu di masa akan datang, seperti janji atau ancaman. Contoh: “Saya akan melamarmu bulan depan.”
5. Deklaratif (declarative)
Tindak tutur yang dapat mengubah keadaan. Contoh: “Dengan ini anda saya nyatakan lulus.” Kata-kata tersebut mengubah status seseorang dari keadaan belum lulus ke keadaan lulus.

c. Tindak Perlokusi

Tindak tutur perlokusi mengacu ke efek yang ditimbulkan penutur dengan mengatakan sesuatu, seperti membuat menjadi yakin, senang, dan termotivasi. Menurut Rahardi (2008: 36), tindak perlokusi merupakan tindak yang menumbuhkan pengaruh (effect) kepada mitra tutur. Contoh tuturan “tanganku gatal” dapat digunakan oleh si penutur untuk menumbuhkan efek rasa takut kepada di mitra tutur. Rasa takut tersebut muncul, bisa jadi dikarenakan si penutur berprofessi sebagai tukang pukul.

REFERENSI

Alreza, Eko Ridho, dkk. 2019. An Analysis of Illocutionary Acts in Yes, We Can Speech by Barack Obama dalam Jurnal Ilmu Budaya Vol.3 No.1 Hal. 25-34. Samarinda: Universitas Mulawarman.

Liestyorini, Inten. 2017. Commisive Speech Act in the First Debate of Jakarta Governor Election 2017 (Skripsi). Semarang: Universitas Diponegoro.

Rahardi, Kunjana. 2003. Berkenalan dengan Ilmu Bahasa Pragmatik. Malang: Dioma.
Revita, Ike. 2014. Pragmatik; Kajian Tindak Tutur Permintaan Lintas Bahasa. Sumedang: Lights Publishing.

Richards, Jack C, dkk. 1985. Dictionary of Applied Linguistics. Harlow: Longman.

Subandowo, Dedi. 2014. Kesopanan Berbahasa dan dan Tindak Tutur. Lampung: Laduny.

No comments:

Post a Comment

Air Terjun Nyarai, Wisata Anti-Mainstream di Sumatera Barat

Jam Gadang di Bukittinggi, Pantai Gandoriah di Pariaman, Istano Pagaruyung di Batusangkar, atau yang katanya mirip Raja Ampat Papua wisa...