Saturday, January 26, 2019

PRAGMATIK DAN SOSIOPRAGMATIK


Apa yang dilakukan manusia ketika sedang berkumpul bersama dengan manusia lainnya? Ketika bertemu atasan, acara kumpul keluarga, bertemu teman, atau membahas gosip terbaru? Saling berbicara bukan? Kita manusia tidak bisa hidup tanpa berbicara, karena manusia hidup dalam dunia kata-kata. Komunikasi adalah salah satu kebutuhan manusia. Tidak terhitung berapa sering komunikasi yang dilakukan manusia dalam sehari dengan teman, pasangan, atasan, orang tua, dan lain-lain. Komunikasi tersebut bisa dengan secara tatap muka, lewat telepon, maupun dengan media lain. Bahkan pembicaraan ataupun komunikasi tersebut bisa saja menggunakan lebih dari satu Bahasa.

Sebagai makhluk sosial, seorang manusia membutuhkan manusia lain untuk berkomunikasi, manusia sangat tergantung kepada bahasa untuk kehidupan sehari-hari. Semakin luas jangkauan jaringan sosial seseorang, maka akan semakin sering juga komunikasi yang akan dilakukannya, dan secara otomatis dituntut juga kemahiran berbahasa yang semakin baik. Mengapa demikian? Karena lingkungan bahasa yang bervariasi akan menghasilkan bahasa yang berragam pula. Untuk itu, perlu pemahaman aspek-aspek bahasa (linguistik) yang baik supaya tidak terjadi kesalahpahaman saat menggunakan bahasa, sehingga bahasa tersebut dapat menjadi media komunikasi yang efektif bagi penuturnya.
Komunikasi yang terjadi antara 2 orang atau lebih disebut efektif jikalau kedua belah pihak sudah memahami dengan baik pesan yang disampaikan. Ketika sebuah ujaran disampaikan oleh A dan kepada B, maka B tidak saja akan mencoba untuk memahami makna dari ujaran tersebut, namun B juga akan mencoba untuk memahami makna yang diinginkan oleh A. Untuk memahami makna tersebut, maka A harus memahami konteks yang ada. Namun, sekiranya A dan B tidak memahami konteks yang ada, maka komunikasi tersebut tidak akan berjalan dengan efektif.

Berkaitan dengan hal di atas, maka setiap orang perlu mempelajari pragmatik, sebuah bidang ilmu yang mempelajari ujaran dengan konteksnya. Istilah pragmatik pertama kali diperkenalkan oleh seorang filsuf yang bernama Charless Morris pada tahun 1938. Dalam (Levinson, 1997:1), Morris menjelaskan bahwa semiotic (ilmu tanda) memiliki tiga bidang kajian, yaitu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Menurutnya, pragmatik adalah kajian tentang hubungan tanda dengan orang yang menginterpretasikan tanda tersebut.

Apa itu Pragmatik...???

Definisi dan batasan ilmu pragmatik ini dikemukakan oleh banyak ahli. Diantaranya adalah menurut Geoffrey Leech (1993:8), pragmatik adalah ilmu tentang maksud dalam hubungannya dengan situasi-situasi tuturan (speech situation). Selanjutnya, menurut Cahyono (1995:213), definisi pragmatik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari tentang makna dan yang dikehendaki oleh penutur. Sementara Kridalaksana (1993:177) menyatakan bahwa pragmatik adalah ilmu yang menyelidiki pertuturan, konteksnya, dan maknanya.

Dari beberapa definisi di atas, terlihat bahwa pragmatik tidak dapat terlepas dari bahasa dan konteks, sehingga dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah ilmu yang mengkaji tentang kemampuan seorang penutur atau pengujar bahasa untuk dapat menyesuaikan antara kalimat yang ia ucapkan dengan konteks yang ada, sehingga pesan yang ingin ia sampaikan dapat tersampaikan dengan baik, dan komunikasi tersebutpun bisa berjalan dengan efektif.

Maksud dimasukkannya konteks sebagai salah satu aspek penting dalam berkomunikasi adalah supaya komunikasi yang dilakukan oleh manusia dapat menjadi komunikasi yang efektif. Konteks ini berkaitan erat dengan kebudayaan, yang tentu saja berbeda-beda. Topik pembicaraan yang biasa menurut masyarakat Jakarta bisa jadi dianggap sebagai pembicaraan yang tabu oleh masyarakat Padang, atau sebaliknya. Ilmu pragmatik umum tidak bisa menjangkau sampai ke keragaman konteks yang diakibatkan oleh perbedaan kebudayaan ini, dibutuhkan ilmu sosiopragmatik untuk mengkaji hal ini lebih dalam.

Apa itu Sosiopragmatik...???

Leech (1983:10-11) menggambarkan sosiopragmatik sebagai “sociological interface of pragmatics” atau dengan kata lain pragmatik yang dibahas dari sudut pandang sosiologi.  Sosiopragmatik tidak hanya fokus kepada bahasanya, tapi juga kepada lingkungan sosial yang mendukung bahasa tersebut. Jadi, dengan kata lain, sosiopragmatik merupakan titik temu antara sosiologi dan pragmatik.

Lebih lanjut lagi, Subroto (2008) menyampaikan pandangannya bahwa sosiopragmatik adalah telaah mengenai kondisi-kondisi setempat atau lokal yang lebih spesifik lagi mengenai penggunaan bahasa. Sosiopragmatik sangat berhubungan erat dengan sosiologi, karena faktor sosial seseorang (umur, suku, agama, jenis kelamin, pekerjaaan, dan lain-lain) menjadi faktor penting yang mempengaruhinya ketika berbahasa.

Sementara menurut Rahardi (dalam Revita, 2017: 3), sosiopragmatik merupakan bagian dari pragmatik, sehingga pragmatik menjadi dasar dari sosiopragmatik. Pragmatik mengkaji bahasa berdasarkan konteks tempat dan waktu si pengguna bahasa, dan sosiopragmatik menjadikan pragmatik sebagai dasar yang meninjau penggunaan bahasa berdasarkan konteks tempat dan waktu dalam aspek sosial dan budaya tertentu.

Ruang Lingkup  Sosiopragmatik

Seperti pendapat para ahli di atas, dijelaskan bahwa sosiopragmatik sangat berkaitan dengan pragmatik. Pragmatik merupakan dasar dari sosiopragmatik, sehingga ruang lingkup pragmatik secara umum juga menjadi ruang lingkup sosiopragmatik. Selain itu, sosiopragmatik juga berangkat dari sosiolinguistik, sehingga ruang lingkup sosiopragmatik juga mencakup wilayah kajian sosiolinguistik secara umum. Jika sosiolinguistik berdasarkan kepada sosiologi, maka tentu saja sosiolinguistik mengkaji hubungan bahasa dengan struktur sosial, organisasi kemasyarakatan, dan tingkah laku masyarakat. Sementara pragmatik mempelajari maksud atau makna yang terkandung dalam tuturan bahasa. Sosiopragmatik menggabungkan kedua kajian (sosiolinguistik dan pragmatik) ini, tentu saja sosiopragmatik akan mempelajari gabungan kedua ilmu tersebut, yaitu mengkaji maksud tuturan bahasa tertentu dengan memperhatikan aspek masyarakat bahasa tersebut (Revita, 2013: 4-5)


Terlihat sangat jelas bahwa sosiopragmatik adalah ilmu yang tidak dapat berdiri sendiri, ia tidak dapat mengkaji sebuah masalah kebahasaan tanpa ada bantuan dari ilmu lain. Ilmu-ilmu yang menyokong sosiopragmatik adalah ilmu sosiolinguistik yang terdiri dari sosiologi dan linguistic, serta ilmu pragmatik. Hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Hubungan antara Sosiopragmatik dan ilmu-ilmu penunjangnya

 
Semua ilmu yang tergabung dalam sosiopragmatik tersebut, harus bergerak secarra bersama-sama, sehingga sosiopragmatik bisa terbentuk secara utuh. Dengan demikian, sesuai dengan yang disimpulkan oleh Revita (2013: 8) bahwa “Di dalam sosiopragmatik dikaji penggunaan bahasa pada masyarakat. Kajian tersebut terkait dengan masyarakat sebagai pengguna bahasa dan aspek sosial yang ada pada masyarakat tersebut.”



REFERENSI

Abdurrahman. 2006. “Pragmatik; Konsep Dasar Memahami Konteks Tuturan” dalam Jurnal Lingua Vol.1 No.2 (2006). Malang: Universitas Islam Negeri Malang.

Prayitno, Harun Joko. 2017. Studi Sosiopragmatik. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

Rahardi, Kunjana. 2009. Sosiopragmatik; Kajian Imperatif dalam Wadah Konteks Sosiokultural dan Konteks Situasionalnya. Yogyakarta: Penerbit Erlangga.

Revita, Ike. 2017. Sosiopragmatik, Teori dan Praktik. Padang: Penerbit Erka.

Subandowo, Dedi. Kesopanan Berbahasa dan Tindak Tutur; Sebuah Kajian Sosiopragmatik. Lampung: Penerbit Laduny


No comments:

Post a Comment

Sehari di Malaka, Kemana Aja? (Destinasi Wisata Melaka)

Setelah dari Penang, perjalanan saya lanjutkan ke Malaka, menggunakan bus. Perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan ongkos 50 MYR. Saya amb...