Thursday, January 3, 2019

"Kepergian" Band Seventeen dan Pelajaran Hidup


Berita tidak menyenangkan kembali mengguncang negeri kita, gelombang tsunami yang memporakporandakan pesisir Banten dan (sebagian) Lampung, menjadi berita paling diperbincangkan di penghunjung tahun 2018 lalu. Ada banyak hikmah di setiap peristiwa, demikian juga pada bencana kali ini. Salah satu yang menjadi viral adalah kisah tentang kelompok band yang turut menjadi korban pada bencana itu. Pada blogpost ini saya akan ikut meramaikan berkomentar mengenai berita viral tersebut, tentang band Seventeen dan pelajaran hidup.Kisah band Seventeen mungkin menjadi kisah yang paling banyak diikuti oleh netizen setelah bencana tersebut melanda. Band ini harus kehilangan 3 personilnya, plus crew dan keluarga. Namun demikian, ada banyak hikmah di setiap peristiwa, dibalik kesedihan ada banyak pelajaran yang bisa kita petik.

1. Maut datang tanpa permisi
Siapa yang akan menyangka bahwa malam itu adalah malam terakhir mereka perform? Tidak ada satu orang pun yang mengira bencana itu akan terjadi dan menghabisi semua. Seandainya ada yang tahu bahwa di tempat itu akan terjadi bencana tsunami, tentu saja tidak akan ada yang mau mendekat ke tempat tersebut. Namun itulah janji Tuhan, bahwa maut bisa datang kapan saja, dengan berbagai cara yang juga tidak kita ketahui. Maut adalah milik semua orang dan datang tanpa permisi, tanpa aba-aba. 




Demikian juga dengan kita yang masih hidup, kita juga punya maut kita masing-masing yang kita tidak pernah tahu kapan akan menjemput, yang tidak bisa dihindari ataupun dihadang. Satu-satu nya yang bisa kita lakukan adalah bersiap, bersiap untuk berpulang dengan sebaik-baiknya persiapan, sehingga "pulang" bukan lah menjadi hal yang menakutkan. Pertanyaannya sudah baguskah persiapan kita??

2. Dimatikan sesuai kebiasaan
Saya pernah mendengar ceramah seorang ustadz ternama di TV, katanya "seorang hamba akan meninggal diatas kehidupan yang biasa ia jalani di dunia dan kemudian ia akan dibangkitkan di atas hal itu". Kita tilik dari personil seventeen, bermusik dan menghibur orang adalah kebiasaan mereka di masa hidupnya, dan mereka pun "dijemput" di saat mereka tengah bermusik dan menghibur masyarakat pula (semoga husnul khotimah). 



Untuk kita yang saat ini masih Allah beri kesempatan hidup, ada tanda tanya besar yang disiapkan. Kita ingin berpulang seperti apa?? Karena janji Allah itu pasti. Maka, tugas kita adalah biasakanlah terus berbuat baik, jadikan kebaikan sebagai kebiasaan, supaya kita juga berpulang dengan baik dan dibangkitkan lagi dalam kebaikan juga nantinya, Wallahu'alam :(

3. Mencintai pasangan sebaik-baiknya
Salah satu kisah yang paling dramatis pada bencana ini adalah kisah percintaan sang vokalis. Selain harus kehilangan 3 rekan panggungnya, Ifan juga harus merelakan kepergian sang istri juga. Dari berita yang saya baca, ada satu hal yang paling disesali Ifan setelah peristiwa ini, yaitu ketika sang istri minta dipeluk sebelum Ifan naik panggung malam itu, namun Ifan tidak mengabulkannya (baca di sini). Sampai air laut melanda dan merenggut sang istri, pelukan itu pun tidak terwujud. 

Semua akan terasa berharga jika telah tiada
Kisah ini menjadi pelajaran bagi kita, bahwa kita tidak tahu orang-orang yang kita cinta akan bisa mendampingi kita sampai kapan. Maka, ketika masih diberi kesempatan, cintailah dia sebaik-baiknya. Jangan sampai menyesal ketika maut telah merenggutnya dan kita belum sempat membahagiakannya. 

No comments:

Post a Comment

Sehari di Malaka, Kemana Aja? (Destinasi Wisata Melaka)

Setelah dari Penang, perjalanan saya lanjutkan ke Malaka, menggunakan bus. Perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan ongkos 50 MYR. Saya amb...