Sunday, August 19, 2018

Obor Asian Games; Sebuah Tradisi

Hampir di setiap event-event keolahragaan selalu ada prosesi kirab obor/api abadi, begitu juga pada Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Indonesia. Tradisi kirab obor api abadi ini adalah tradisi kuno dari Yunani Kuno yang telah dilakukan dari zaman dahulu kala. Pertama kali dilaksanakan pada helat olahraga Olimpiade Kuno, Api diambil sebuah kuil kuno bernama Olympia. Dari Olympia, api akan dibawa melintasi Yunani hingga ke Athena dan upacara di Stadium Panathenian, kemudian api akan akan diberikan kepada tuan rumah komite untuk menandakan bahwa pertandingan siap dimulai. Tradisi kuno ini terus mengalami perkembangan, mulai dari cara membawa api, hingga ke kota-kota yang dilewati ketika kirab.

Baca Juga :  Jangan Keliru, Sea Games atau Asian Games??


Mengapa harus "api"?

Api Olimpiade dianggap sebagai api suci yang berasal dari Matahari yang dipercaya sebagai energi paling murni. Selain itu, api yang dibawa menggunakan obor merupakan bentuk simbolis dari semangat yang membara, diharapkan semangat para atlet tidak pernah padam seperti api abadi yang terus berkobar dalam kondisi apapun.

Kirab Obor Asian games 2018

Kirab obor pada Asian Games mengadopsi prosesi obor Olimpiade. Penggunaan kirab obor pada Asian Games baru dilaksanakan pada tahun 1958, ketika Jepang menjadi tuan rumah. Pada Asian Games 2018 ini, prosesi kirab obor juga tidak terlupa. Api diambil dari api abadi yang berasal dari India digabung dengan api abadi asli Indonesia. Kenapa dari India? Karena India merupakan tempat pertama kali Asian Games diadakan pada tahun 1951 lalu. 

Dari India, api tersebut akan dibawa ke Indonesia dan kemudian akan digabungkan dengan api abadi yang berasal dari Indonesia. Lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara membawa api yang harus menempuh jarak sedemikian jauh? Perkembangan teknologi menjadi jawabannya, api dibawa menggunakan Tinder Box, sebuah alat khusus yang menyerupai lentera namun berbahan bakar gas. Gas yang ada pada Tinder Box bisa membuat api bisa terus menyala selama 10 jam. Selama perjalanan, panitia tentu saja akan membawa Tinder Box dan bahan bakar cadangannya, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kemudian, Tinder Box dibawa menggunakan pesawat udara milik TNI AU. 
Tinder Box (Sumber Foto)
Dari India, api akan dibawa ke Mrapen, Jawa Tengah, tepatnya di Candi Prambanan. Konon api abadi  Mrapen adalah api yang tidak pernah padam, walaupun terkena hujan sekalipun. Di sana akan dilakukan penggabungan api dari India dengan api abadi yang berasal dari Mrapen. Setelah api tergabung, api obor selanjutnya dibawa untuk berkeliling Indonesia secara estafet. Mulai dari Jawa Tengah, Yogyakarta, Blitar, Malang, Banyuwangi, Bali, Mataram, Raja Ampat, Makasar, Banjarmasin, Aceh, Medan, Pekanbaru, Bukittinggi, Jambi, Palembang, Bandar Lampung, dan bermuara di Jakarta. Berakhir pada tanggal 18 Agustus 2018, obor dibawa ke Gelora Bung Karno dan kemudian dinyalakan pada upacara pembukaan Asian Games 2018. 
Orang No.1 Indonesia turut menjadi Torch Bearer (Sumber Foto)



4 comments:

Cara ke Malaka dari Dumai, Kuala Lumpur, dan Penang

Dari Hat Yai (baca report-nya  di sini ), kami balik ke Penang. Destinasi selanjutnya adalah, Melaka, kota di Malaysia bersama Pen...