Thursday, August 2, 2018

Anak Minang (Mulai) Lupa dengan Adatnya

Tentu saja karena uni berasal dari Ranah Minang, maka teman-teman yang berasal dari daerah lain selalu memanggil uni dengan sebutan "Uni". Tidak jarang juga mereka memanggil uni dengan sebutan "Mba Uni", yang tentu saja terdengar menggelikan di telinga uni. Berulang kali uni koreksi ke mereka, bahwa "Uni" kurang lebih bermakna sama seperti "Mba" di Jawa. Namun tetap saja panggilan "Mba Uni" terus saja mereka alamatkan ke uni. Uni tidak pernah keberatan dengan panggilan yang terkesan boros tersebut, ya maklum saja, teman-teman uni berasal dari latar kebudayaan yang berbeda dengan uni sehingga mereka tidaklah terlalu paham dengan kebudayaan asal uni.9238201



Namun, hati nurani uni benar-benar terusik ketika uni berada di tanah kelahiran uni sendiri, di sebuah Rumah Sakit Daerah di Kota Padang, uni di panggil "Mba" oleh seorang petugas yang dari logatnya uni tahu pasti juga orang Minang. Kejadian seperti ini terus menerus berulang kali uni alami. Miris memang, ketika di daerah lain uni dipanggil "uni" oleh banyak orang, namun di kampung sendiri panggilan "uni" tersebut seolah dikikis oleh Orang Minang itu sendiri.


Sapaan Khas yang Nyaris Punah

Barangkali banyak orang Minang pernah mengalami kejadian yang serupa seperti yang uni alami. Coba saja pergi ke Pasar Raya Padang atau Pasar Atas Bukittinggi, para pedagang akan menawarkan dagangannya dengan menyebut "Kak/Bang" sebagai sapaan kepada si pembeli. Demikian juga jika berinteraksi dengan supir angkutan umum dan atau berbagai interaksi lainnya.


Ketek Banamo, Gadang Bagala (Kecil Bernama, Besar Bergelar) demikian pepatah yang selalu digemakan di Ranah Minang. Pepatah ini menggambarkan bahwa sapaan yang dialamatkan kepada seseorang adalah sebentuk penghormatan kepada orang tersebut. Panggilan nama untuk teman seumuran, panggilan "Diak/Adiak" untuk yang berusia lebih muda, panggilan "Uni/uda" untuk yang berusia lebih tua, panggilan "Mamak" untuk saudara laki-laki ibu, dan berbagai sapaan lainnya sesuai porsi nya masing-masing telah diajarkan dan berlaku di Ranah Minang dari dahulunya.


9238210


Namun seiring perkembangan zaman, sapaan-sapaan tersebut mulai terkikis. Sudah sangat jarang kita dengar anak-anak usia Sekolah Dasar yang memanggil saudaranya dengan panggilan "Uda/Uni", telah tergantikan dengan panggilan "Abang/Kakak". Tentu kita semua tahu bahwa panggilan "Abang/Kakak" bukanlah panggilan asli Ranah Minang. Begitu juga panggilan "Mamak" untuk saudara laki-laki Ibu Kandung, sudah tergeserkan dengan panggilan "Om". Masih banyak lagi sapan-sapaan ajaran nenek moyang yang telah tergerus dan digantikan oleh sapan-sapaan lain yang jelas-jelas bukanlah asli dari Ranah Minang.


Bersiaplah Kehilangan Jati Diri

[caption id="attachment_970" align="aligncenter" width="300"]120712215945_rumah-gadang-roboh-1-ap-12072012 Gejala kehilangan jati diri (Sumber Foto)[/caption]

Merupakan fakta menyakitkan yang harus kita terima, perlahan namun pasti kebudayaan kebanggaan kita yang pada zamannya pernah berjaya dan dihormati oleh seluruh dunia, terkikis dan tergantikan oleh kebudayaan-kebudayaan yang terkadang kita tidak tahu pasti berasal dari mana. Mirisnya pengikisan tersebut dilakukan oleh orang Minang itu sendiri, berlaku di tengah-tengah society orang Minang itu sendiri. Percayalah, semakin kita membiarkan dan seolah menutup mata dengan hal-hal seperti ini, maka bersiaplah beberapa puluh tahun lagi Minangkabau hanya dapat dibaca dari buku sejarah, tanpa dapat ditemukan lagi keaslian dan esensi nya pada masyarakatnya, bahkan yang berdarah asli sekalipun.


 

1 comment:

Cara ke Malaka dari Dumai, Kuala Lumpur, dan Penang

Dari Hat Yai (baca report-nya  di sini ), kami balik ke Penang. Destinasi selanjutnya adalah, Melaka, kota di Malaysia bersama Pen...