Tuesday, April 3, 2018

Sehari di Tana Toraja..?? Bisa Kok..!!

Tidak tau mengapa, Tana Toraja telah menjadi destinasi impian saya dari kecil. Ketika teman-teman saya bermimpi untuk mengunjungi Bali atau Lombok, saya malah bercita-cita untuk bisa main ke Sulawesi supaya bisa main ke Toraja. Alhamdulillah, cita-cita masa kecil saya dikabulkan Sang Maha Kuasa, saya diberikan kesempatan untuk menjejakkan kaki di Sulawesi, Tana Toraja tentu saja tidak akan saya lewatkan.

Transportasi ke Toraja

Ada beberapa cara untuk mencapai Toraja dari Makasar. Cara yang tercepat dan termudah (hanya 45 menit saja) adalah dengan menggunakan pesawat terbang, saat ini sudah cukup banyak maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan ini. Namun, dapat ditebak, dengan menggunakan pesawat terbang tentu juga akan memerlukan biaya yang cukup banyak juga, sehingga moda transportasi yang satu ini tidak sesuai untuk seorang budget traveler seperti saya. Cara kedua adalah dengan menggunakan mobil sewaan. Cara kedua ini sangat dianjurkan untuk kalian yang berkunjung secara rombongan. Selain dapat lebih hemat, kalian juga dapat berhenti dimanapun kalian suka untuk menikmati pemadangan alam di sepanjang perjalanan. Silahkan googling, akan banyak sekali penyedia jasa sewa mobil yang bisa dihubungi via telepon. Namun, kalau tidak sempat googling, jangan khawatir, sesampainya di Bandara Sultan Hasanuddin akan banyak juga bapak-bapak yang menawarkan jasa sewa mobil, tinggal pintar-pintar nawar saja. Untuk harga sewa mobil kisaran 500 ribu - 600 ribu Rupiah perhari permobil sudah include sopir dan BBM. Cara yang ketiga adalah menggunakan bus. Banyak sekali bus yang tersedia yang melayani rute Makasar-Toraja, mulai dari bus yang biasa-biasa saja, bus yang dilengkapi AC, hingga sleeper bus. Saya sendiri memilih cara yang ketiga, dikarenakan perjalanan dari Makasar hingga Toraja sekitar 8-9 jam, maka saya memilih menggunakan sleeper bus, bus dengan seat empuk yang lega dan dapat di-set untuk posisi tidur dan dilengkapi dengan bantal dan selimut juga, lumayanlah bisa menghemat biaya hotel 1 malam. Ongkos bus mulai dari 150 hingga 350 ribu Rupiah, semakin lengkap fasilitasnya maka semakin mahal pastinya. 
Seat-nya nyaman untuk tidur semalaman
Dari Makasar ke Toraja kita akan menempuh perjalanan darat sekitar 8 - 9 jam, maka bagi kalian yang ingin menikmati panorama alam sepanjang perjalanan, berangkatlah pagi hari dari Makasar. Namun bagi kalian yang ingin menghemat waktu dan budget hotel (seperti saya), maka berangkatlah dari Makasar menggunakan bus malam dan sampai di Rantepao (Toraja Utara) keesokan paginya.
Bus nya bisa muat motor juga lohh
Sehari di Toraja, Bisa Apa saja?

Sesampainya di Rantepao, saya sudah ditunggu oleh seorang teman traveler asli Toraja yang telah berjanji akan menemani saya keliling Toraja seharian ini. Saya memutuskan untuk menyewa motor saja, supaya mobilitas saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain lebih leluasa dan cepat. Harga sewa motor di Rantepao kurang lebih sama seperti di Bali, sekitar 70 - 80 ribu Rupiah, motor sudah dilengkapi dengan 2 helm, jadi jangan khawatir ditilang karena tidak pakai helm ya.

1. Kete Kesu
Deretan Tongkonan, menjadi tempat paling "jangan dilewatkan" untuk swafoto.
Destinasi pertama saya adalah Kete Kesu, sebuah desa wisata yang terletak sekitar 4 km dari Rantepao. Di sini terdapat banyak sekali peninggalan sejarah yang masih terawat hingga hari ini. Ada Tongkonan (rumah adat) asli yang telah ada dari zaman nenek moyang mereka, Tongkonan tersebut dilengkapi dengan alang (lumbung) dan berbagai ornamen lainnya. Oh ya, kita akan menemui beberapa tanduk kerbau yang digantung di Tongkonan, jumlah tanduk kerbau tersebut menggambarkan berapa kali si empunya Tongkonan mengadakan pesta.

Beberapa kuburan yang sudah berusia ratusan tahun
Selain Tongkonan, selanjutnya berjalanlah ke bagian belakang situs Tongkonan. Setelah naik beberapa anak tangga di tebing bukit, kita dapat menemukan beberapa makam adat yang telah berusia ratusan tahun. Ada beberapa jenis makam disini, makam yang berbentuk bangunan rumah, makam yang tergantung di tebing, dan makam yang berada di dalam goa. Aura magic terasa cukup kuat disini, di makam yang berbentuk rumah tersebut disertai dengan patung-patung berpakaian lengka[ yang menyerupai almarhum/ah yang berkubur di sana. Sedangkan untuk makam yang tergantung di tebing atau pun di goa, kita dapat melihat dengan jelas tulang belulang maupun tengkorak manusia yang terkubur di sana.

2. Londa

Tidak jauh beda dengan Kete Kesu, Londa juga merupakan objek wisata yang berisi pemakaman yang sudah ada dari ratusan tahun silam. Sesampainya di lokasi, kita akan menemukan patung-patung dari jenazah yang dikuburkan di sana. Selain itu kita juga akan bisa menemukan peti-peti mati di tebing bukit yang disokong dengan kayu ataupun bambu. Menurut mereka, semakin tinggi posisi peti, maka semakin tinggi juga posisi jenazah tersebut di dalam masyarakat dan semakin mudah pula perjalanan roh jenazah tersebut menuju surga.
Konon, (katanya) itu adalah tengkorak Romeo-Juliet Toraja
Selanjutnya, kita bisa masuk ke dalam goa. Beberapa bagian dalam goa tersebut tidak terlalu lebar dan juga tidak ada alat penerangan yang tersedia di dalam, namun kita bisa menyewa lampu petromaks sekaligus guide untuk masuk ke dalam goa. Di dalam goa ini, kita dapat menemukan tulang belulang dan peti-peti mati. Yang menarik perhatian saya adalah, di sekitaran tulang-belulang dan peti mati tersebut banyak sekali rokok dan bekas air kemasan. Menurut guide saya, rokok dan air kemasan tersebut bukanlah sampah dari pengunjung. Namun, pada waktu-waktu tertentu keluarga dari jenazah yang terkubur disana, datang dan membawakan barang-barang tersebut, kemudian diletakkan di sekitar makam. Mereka percaya, roh dari keluarga mereka masih ada dan bisa menikmati barang-barang yang mereka bawakan. Satu hal menarik lagi, konon, di dalam Goa Londa ini terdapat tengkorak sepasang kekasih yang kisahnya mirip seperti Romeo dan Juliet, hubungan mereka tidak direstui keluarga karena masih berada dalam satu marga.

3. Bori Parinding

Destinasi selanjutnya adalah Bori, sebuah komplek Megalit yang dipenuhi dengan bebatuan menhir berbagai ukuran. HTM nya terjangkau, hanya Rp.10.000 saja perorang. Konon bebatuan menhir tersebut telah berusia ratusan hingga ribuan tahun. Bebatuan Menhir tersebut didirikan untuk menghormati roh-roh orang yang meninggal. Semakin besar dan tinggi menhir yang menjulang, berarti semakin tinggi juga derajat orang tersebut dalam masyarakat.
Breathtaking view
Tidak terlalu jauh dari Bebatuan Menhir tersebut, dengan berjalan sedikit menanjak, kita akan menemukan deretan kuburan batu. Batu-batu berukuran raksasa dipahat secara manual sehingga menghasilkan lubang-lubang berbentuk persegi. Di dalam lubang-lubang tersebutlah jenazah disimpan, diberi penutup (dari batu juga), dan ditempeli foto semasa hidup.

Kuburan batu

Pohon Tarra, The Baby Grave
Berjalan beberapa puluh meter lagi, kita bisa menemukan kubur bayi. Kubur Bayi unik ini tidaklah di tanah maupun batu, namun di pohon. Bayi-bayi berusia di bawah 6 bulan dan belum tumbuh gigi yang meninggal akan dikuburkan di batang Pohon Tarra''. Pohon Tarra' mengandung getah yang dipercaya dapat menjadi pengganti ASI bagi si bayi.

4. Pasar Bolu

Pasar Bolu adalah sebuah pasar tradisional yang berada di Toraja. Tidak jauh beda dari pasar-pasar tradisional lainnya, di Pasar Bolu kita bisa menemukan pedagang-pedagang hasil bumi, makanan tradisional, hingga ke pedagang pakaia bekas. Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya di sini adalah tempat penjualan hewan ternaknya. Toraja dikenal sebagai daerah yang sering mengadakan pesta dan upacara adat, kerbau dan babi adalah hewan-hewan ternak yang dikorbankan dalam upacara adat tersebut. Penyembelihan kerbau dan babi tersebut selalu dalam jumlah yang tidak sedikit, bahkan semakin banyak jumlah hewan yang disembelih semakin terhormat posisi Si Empunya pesta tersebut di mata masyarakat. Hal itulah yang menjadikan tempat penjualan hewan ternak di pasar ini menjadi daya tertarik tersendiri. Di pasar ini kita bisa menemukan sebuah areal seluas 2 kali lapangan bola kaki yang berisi satusan ekor kerbau warna warni. Jika kerbau di tempat lain berwarna hitam, maka di pasar ini kita bisa menemukan kerbau bule, atau kerbau bercorak mix antara hitam dan putih (seperti corak sapi). Konon harga kerbau tersebut bisa mencapai 200 juta lebih, tergantung ukuran dan warnanya.
Kerbau sebesar itu dihargai 150 juta Rupiah
Berjalan terus ke arah dalam pasar, kita bisa menemukan lapak pedagang babi dan lapak pedagang ayam di sebelahnya. Ini adalah pengalaman pertama saya melihat babi yang dijual bebas di pasar seperti ini. Babi-babi berbagai ukuran tersebut terlihat bersih dan sehat, diikat dengan posisi tidur pada potongan bambu dan di jejer dengan rapi. Di beberapa lapak, babinya tidak diikat, di lepas di dalam kandang setinggi lutut orang dewasa yang terbuat dari anyaman bilah bambu. Babi-babi yang berada di dalam kandang bambu tersebut juga terlihat bersih dan segar. Menurut penjualnya, babi-babi tersebut rutin dimandikan setiap harinya.
Babi-babi siap jual

5. City Tour Rantepao

Sebenarnya masih ada Buntu Burake di list destinasi saya, namun dikarenakan cuaca yang tidak bersahabat setelah siang, maka saya tidak dapat melanjutkan perjalanan lagi. Saya memutuskan untuk jalan-jalan dalam Kota Rantepao. Tidak butuh waktu terlalu lama untuk keliling Kota Rantepao, karena kota ini tidaklah terlalu luas. Jangan lupa untuk mampir ke Pasar Pagi Rantepao. Di pasar ini kita bisa menemukan pedagang Kopi Toraja yang terkenal itu, dengan harga jauh lebih murah dibanding harga di toko souvenir tentunya. Kita bisa membeli biji kopi yang telah disangrai berwarna hitam mengkilat dengan aroma kopi yang kuat. Jika tidak ingin repot, kita bisa membeli kopi yang telah diolah menjadi berbentuk bubuk. Kita juga bisa menyaksikan langsung pengolahan biji kopi menjadi bubuk kopi tersebut.
Kopi Toraja termasuk kopi yang paling enak di Indonesia
Tidak terasa, matahari telah berpulang ke peraduannya, berarti saya harus siap-siap untuk kembali ke Makasar dengan bus malam. Tepat jam 8 malam, bus yang saya tumpangi pun berangkat, dan tiba di Makasar keesokan subuhnya. Kemana lagi saya setiba di Makasar?? Simak di blogpost selanjutnya ya..!!

No comments:

Post a Comment

Apa yang Kau Ingat pada Februari?

Hai, kamu ingat ini hari apa? Valentine? Sudah berlalu dari 2 hari yang lalu. Ku yakin kau pasti lupa, coba lah pejamkan mata ...