Monday, April 16, 2018

Perempuan Minang, Dulu dan Kini

Sebenarnya tidak ada yang keliru dengan penampilan model senior Indonesia yang mengenakan pakaian rancangan seorang desainer kenamaan Indonesia itu, jika saja yang bersangkutan tidak menambahkan embel-embel Minangkabau pada kostum yang dipakainya. Dia terbilang sangat cantik malah dalam balutan busana tersebut, tidak ada yang bisa memungkiri keelokan fisiknya yang terlihat jelas, ditambah lagi hiasan menyerupai sunting khas Minangkabau yang menghiasi kepalanya membuat kesan anggunnya menguar nyaris sempurna. Namun sayang, penampilannya malam itu tidaklah merefleksikan penampilan perempuan Minangkabau sama sekali, seperti yang sang desainer gaungkan. Sang desainer terlalu menyederhanakan (baca : menyepelekan) khasanah adat Minangkabau. Beragam komentar di linimasa mengenai hal ini, uni pun tergelitik untuk mengulasnya di sini.





[caption id="attachment_924" width="448" align="aligncenter"]suntiang-minang_20180410_174024 Apakah dengan pakai Suntiang sudah disebut Minang??? (SumberGambar)[/caption]

Minangkabau menganut sistem Matrilineal yang meletakkan perempuan berada di posisi paling terhormat. Untuk penghormatan itulah, banyak norma-norma yang harus dipatuhi oleh seluruh perempuan Minangkabau, termasuk cara berpakaian. Seluruh norma-norma tersebut tidak ditetapkan asal-asalan, namun disesuaikan dengan Filosofi adat basandi sara', sara' basandi kitabullah. Berdasarkan filosofi itulah, maka pakaian perempuan Minangkabau haruslah menutup aurat dan sesuai dengan ketentuan kaidah Islam. Selain itu, ornamen dan pernak-pernik yang melekat di pakaian tersebut tidaklah sembarang pakai, setiap hal yang dipakai dan digunakan itu memiliki filosofi dan nilai-nilai tertentu.


a. Pakaian Sehari-Hari


Pada masa lampau, untuk sehari-hari, pakaian seorang perempuan Minangkabau (termasuk juga perempuan ras Melayu) adalah Baju Kurung. Baju Kurung adalah baju yang longgar tanpa lekukan sepanjang betis, sehingga tidak memperlihatkan detil tubuh perempuan yang memakainya. Baju Kurung dipakai bersama Kodek sebagai bawahannya, kodek adalah kain sarung yang berbahan halus. Pada zaman lampau, Baju Kurung yang dipakai adalah Baju Kurung Basiba, yaitu tidak menggunakan jahitan di bagian bahunya, namun di bagian siku saja. Stelan Baju Kurung dan Kodek ini dilengkapi dengan selendang untuk menutupi kepala, bahu, maupun bagian dada. Namun untuk perempuan-perempuan yang berilmu agama sangat baik, mereka akan menggunakan Lilik untuk menutupi aurat bagian atasnya itu. Lilik (lilit) adalah kerudung yang dipakai dengan cara melilitkan sedemikian rupa sehingga dapat menutupi kepala hingga dada, namun tidak meninggalkan kesan cantik.



[caption id="attachment_917" width="220" align="aligncenter"]Rahmah_el_Yunusiyah Baju Kurung dan Lilik (SumberGambar)[/caption]

b. Pakaian untuk Acara Tertentu


Demikian juga untuk acara-acara tertentu seperti upacara adat maupun pesta pernikahan, filosofi adat yang berpatokan kepada ajaran Islam tidaklah ditinggalkan. Pakaian yang digunakan tetaplah harus pakaian yang menutup aurat, tanpa meninggalkan nilai-nilai estetika. Setiap daerah di Ranah Minang memiliki desain dan model yang berbeda-beda, bahkan menurut Bapak Gubernur Irwan Prayitno tercatat lebih dari 400 model pakaian perempuan Minangkabau pernah ada di ranah ini. Namun demikian, desain model tersebut tidak boleh terlepas dari filosofi adat yang berpanutan ajaran Islam.


Salah satu pakaian yang biasa digunakan perempuan Minangkabau di setiap upacara adat bernama Limpapeh Rumah Gadang. Limpapeh adalah tiang penyangga yang berada di tengah-tengah Rumah Gadang. Tahukan apa fungsi tiang penyangga di sebuah rumah?? Seperti itulah penghormatan yang diberikan oleh masyarakat Minangkabau kepada perempuan-perempuannya. Perempuan diumpamakan sebagai tiang penyangga di sebuah rumah, yang menentukan kemegahan sebuah rumah, namun jika tiang itu rapuh maka dapat dipastikan seisi rumah juga akan ikut ambruk.



[caption id="attachment_918" width="300" align="aligncenter"]bundo Baju Kurung [/caption]

[caption id="attachment_919" width="236" align="aligncenter"]pakaian-pengantin-bellajpg-PmFM Laudya mengenakan Baju Kurung, menutup aurat tetap bisa cantik, bukan?? (Sumber gambar)[/caption]

Apa yang membuat berbeda antar pakaian yang dikenakan sehari-hari dengan yang dikenakan ketika acara-acara tertentu. Kalau untuk model, tidak ada yang berbeda banyak, masih bermodel baju kurung yang sebetis dan longgar. Yang membedakan hanya di material dan pernak-pernik yang melekat di baju tersebut. Biasanya material kain yang digunakan adalah bahan beludru atau bahan sutra, dengan warna-warna khas, yaitu : merah, hitam, maupun biru. Baju-baju tersebut akan diperindah dengan sulaman benang emas maupun pernak-pernik bernuansa emas lainnya.



[caption id="attachment_921" width="213" align="aligncenter"]couple800x600 Pengantin Minangkabau (SumberGambar)[/caption]

Untuk bagian kepala, akan ditutup menggunakan Tingkuluak Tanduak ataupun Suntiang. Tingkuluak Tanduak adalah selendang yang dibentuk menyerupai tanduk kerbau. Sedangkan Suntiang (sunting) adalah hiasan kepala yang terbuat dari kuningan yang disusun sedemikian rupa menyerupai mahkota di kepala seorang perempuan. Suntiang dengan ukuran yang besar biasanya digunakan oleh seorang Anak Daro (pengantin perempuan) dihari ia bersanding di pelaminan. Namun penggunaan hiasan kepala tersebut tetap saja memperhatikan kaidah agama yaitu menutupi aurat.


Realita Zaman Now


Serbuan modernisasi terus menggerus warisan nenek moyang tersebut. Bahkan generasi muda zaman sekarang sudah banyak yang tidak kenal dengan pakaian asli nenek moyang mereka tersebut. Tanyakan saja tentang Baju Kurung kepada mereka, maka yang ada dalam pikiran mereka adalah pakaian khas orang Malaysia (Melayu) karena memang hingga hari ini, hanya orang Malaysia yang masih melestarikan pakaian tersebut dengan baik dan menggunakannya sebagai pakaian sehari-hari.


Lihat juga dengan pakaian Anak Daro zaman kini, dengan mengusung kebebasan berkreatifitas dan modernisasi, nilai dan norma adat yang terkandung pada pakaian adat perempuan Minangkabau pun mulai terlupakan. Bukan lagi hal yang aneh jika saat ini kita menemukan pengantin keturunan asli Minangkabau mengenakan pakaian yang memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang seharusnya ditutupi. Semakin mengelus dada lagi ketika kita lihat show-show entertain di banyak tempat, (beberapa) penyanyi-penyanyi Minang itu misalnya, tema yang mereka gunakan mengatas-namakan Minangkabau, namun pakaian yang mereka kenakan jauh dari Minangkabau yang sebenarnya.



[caption id="attachment_920" width="200" align="aligncenter"]songket-2 Pernikahan BCL (katanya) mengusung adat Minang (Sumber Gambar)[/caption]

Maka, janganlah marah ketika ada desainer yang bukanlah orang Minang menciptakan pakaian yang katanya "Pakaian orang Minang", jikalau kita yang asli 100% berdarah Minang masih membiarkan pakaian tradisional kita dimodifikasi sesukanya oleh orang Minang itu sendiri. Buat apa keberatan ketika ada model berdarah Eropa yang notabene tidak tahu menahu mengenai adat istiadat kita mengenakan pakaian yang (katanya) berasal dari ranah kelahiran kita dengan sesukanya, namun kita seolah-olah menutup mata ketika anak-kemenakan kita tidak mengerti cara berpakaian orang Minang yang seharusnya.



Bukankah segala sesuatu itu bermula dari diri kita sendiri??? Jika kita ingin dihargai oleh orang lain, maka kita harus menghargai diri sendiri terlebih dahulu.


1 comment:

  1. Wow baru tahu kak, btw kalau pengantin Sunda saya lihat diorama di Museum enggak jauh berbeda dan sebenarnya saya penasaran banget sama Teh Bella yg ternyata pakai adat Minang, tapi pas resepsi di Bandung nggak pakai adat Sunda.. Meskipun demikian saya bangga Indonesia kaya banget😘

    ReplyDelete

Sehari di Ho Chi Minh City, Kemana Aja...???

Setelah seharian di Mui Ne, saya kembali ke Ho Chi Minh City (HCMC) dengan bus siang. Perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam, jadi say...