Sunday, April 15, 2018

Merasakan Aura Purba di Taman Prasejarah Leang-Leang Maros

Setelah puas menjelajah Sungai Pute dengan pemandangan pegunungan karst di kiri-kanannya, perjalanan saya lanjutkan ke tempat yang tidak kalah mencengangkan. Namanya Taman Prasejarah Leang-Leang. Kata Leang berasal dari Bahasa Bugis yang berarti Goa. Yappp, sesuai namanya, memang di tempat ini kita akan menemukan ratusan goa berbagai ukuran yang telah ada dari zaman prasejarah dulunya. Di beberapa goa kita malah dapat menemukan sisa-sisa peninggalan manusia prasejarah yang menjadi nilai seni mahatinggi saat ini. 

Transportasi

Lokasi Taman Prasejarah Leang-Leang cukup jauh dari poros jalan utama, sehingga belum banyak transportasi umum rute khusus yang tersedia ke tempat ini. Untuk kalian yang punya dompet cukup tebal, bisa menggunakan jasa tour travel atau menyewa mobil dari Makasar, sedangkan untuk budget traveller seperti saya, dibutuhkan usaha ekstra untuk bisa mencapainya. Dikarenakan saya telah mampir ke Rammang-Rammang sebelumnya, maka saya menggunakan ojek yang telah saya sewa seharga 100 ribu Rupiah untuk 3 destinasi yaitu Rammang-Rammang, Leang-Leang, dan Bantimurung.

Tiket Masuk

HTM tempat ini tidaklah mahal menurut saya, hanya 10 ribu Rupiah per orang diluar biaya  parkir. Di tempat penjualan tiket ini juga akan ditawarkan jasa pemandu bagi yang membutuhkan, dengan bayaran seiklasnya. Mengingat perjalanan saya yang masih jauh (Bulu Kumba), maka saya pun memutuskan untuk menggunakan pemandu untuk berkeliling taman prasejarah ini.

Ada Apa Saja?

Setelah masuk, kita akan disambut dengan lapangan berumput yang dipisahkan oleh sebuah sungai yang cukup deras dengan perbukitan karst sisi lainnya. Batu-batu karst berbagai ukuran bagai ditabur di lapangan berrumput tersebut, beberapa karst menyerupai hewan-hewan tertentu, tentu saya tidak melewatkan untuk mengabadikan tempat ini dalam lensa kamera saya. Saya berkunjung pas hari libur, sehingga taman ini dipenuhi oleh pengunjung lainnya. Bapak Pemandu mengajak saya melintasi sebuah jembatan kecil untuk menyebrangi sungai dan menuju goa yang ada di sana. Perjalanan selanjutnya akan dilanjutkan dengan track anak tangga menanjak yang cukup licin (bekas hujan semalam). Ada yang menarik perhatian saya di track ini, entah karena dampak dari hujan semalam atau memang endemiknya Leang-Leang, saya menemukan banyak sekali hewan kaki seribu ukuran jumbo (sejempol kaki) yang menempel di antara anak tangga atau di sela-sela bebatuan. Sebenarnya ada ratusan leang yang berada di kawasan tersebut, namun mengingat efektifitas waktu saya memutuskan untuk mengunjungi hanya 2 leang saja. 
Welcome di Taman Prasejarah Leang-Leang Maros

Kombinasi alam yang luar biasa

Taman Batu, batu-batu karst itu bagai ditabur di lapangan itu.

a. Leang Petta Kere

Leang ini berada cukup tinggi dari permukaan tanah, sehingga untuk dapat masuk ke dalam gua ini kita harus menaiki sebanyak 64 anak tangga yang telah disediakan. Terdapat semacam teras selebar sekitar 2 meter di leang ini yang memungkinkan kita untuk melihat view di sekitar dengan leluasa, atau sekedar menarik nafas setelah menaiki anak tangga yang cukup buat ngos-ngosan. Di dalam gua tersebut kita bisa menemukan lukisan 2 babi rusa dan 27 lukisan telapak tangan.

Siapkan stamina untuk menaiki anak-anak tangga itu yaa..!
Lukisan telapak tangannya terlihat jelas kan?

b. Leang Pettae


Lukisan di dalam leang dominan berwarna merah
Leang ini terletak tidak terlalu jauh dari Leang Petta Kere, berjarak beberapa meter di atas permukaan tanah maka kita perlu menaiki 26 buah anak tangga untuk dapat mencapainya. Di mulut leang ini, kita bisa menemukan alat serpih bilah serta kulit-kulit kerang yang berserakan. Di bagian dalam leang kita dapat melihat lukisan 5 buah telapak tangan dan lukisan 1 ekor babi rusa yang sedang meloncat dengan anak panah menancap di dadanya.
Leang ini digembok, untuk mengantisipasi disalahgunakan oleh pengunjung

Menurut penjelasan Bapak Pemandu, leang-leang tersebut telah dihuni sejak 8.000 - 3.000 sebelum Masehi. Lukisan-lukisan yang ada di dalam leang tersebut menceritakan tentang kehidupan sosial manusia prasejarah yang hidup pada saat itu. Gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap tangan salah seorang dari mereka seusai menjalani ritual potong jari, konon ritual ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa dukacita karena kematian orang terdekatnya. Warna dominan merah yang dijumpai pada lukisan-lukisan tersebut dihasilkan dari bahan-bahan alami yang digunakan yang dapat meresap hingga ke dalam pori-pori batu dan dapat bertahan hingga ribuan tahun dan dapat kita saksikan hingga detik ini. Sedangkan kulit-kulit kerang yang kita temui berserakan mulai dari mulut leang hingga ke bagian dalam leang tersebut dikarenakan (kemungkinan) dulu nya daerah tersebut adalah lautan, perjalanan waktu dan perubahan geologis membuat lautan menyurut dan menyisakan daerah yang kita lihat saat ini.

2 comments:

  1. Wah bahan alami apa ya yang dipakai sampai bisa meresap ke batuan dan bertahan warnanya hingga kini?
    Itu lukisan tangan dibuat setelah ritual potong jari, tapi di lukisan, tampak cap-cap tangan dengan jari lengkap?
    Besar-besar atau sesuai ikuran tangan kita mbak lukisan cap tangannya? Untuk bandingin ukuran tangan orang purba dengan manusia sekarang gitu.

    ReplyDelete
  2. Hai Mba Intan, saya tidak bertanya terlalu mendalam ke bapak-nya mba, jadinya diangguk-anggukin aja semua penjelasan beliau, hehehe. Anyway, terimakasih sudah mampir mba :)

    ReplyDelete

Sehari di Malaka, Kemana Aja? (Destinasi Wisata Melaka)

Setelah dari Penang, perjalanan saya lanjutkan ke Malaka, menggunakan bus. Perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan ongkos 50 MYR. Saya amb...