Thursday, April 5, 2018

Gunuang Padang ; Mengenang Pedihnya Kasih Tak Sampai (Dan Hal Lainnya)


Gunung Padang yang ini ada di Kota Padang, bukan Gunung Padang yang di Cianjur ya. Jikalau dilihat dari ukurannya, istilah gunung mungkin terlalu "berlebihan" untuk tempat ini menurut saya. Mungkin sebutan bukit akan lebih sesuai, karena untuk bisa sampai di puncaknya hanya butuh waktu 15-30 menit saja. Namun bukan soal ukuran yang akan saya bahas kali ini, ada kisah yang jauh lebih besar dibanding ukuran secara kasat mata di tempat ini. Kisah tentang cinta, sejarah, dan keindahan Sang Maha Kuasa.



Gunung Padang berada di Kecamatan Padang Selatan, cukup menyeberang dari Jembatan Siti Nurbaya, kemudian berbelok ke kiri di pertigaannya, jalan saja terus sampai bertemu gate kawasan wisata ini. Di gerbang kita bisa membeli tiket yang murah meriah, hanya Rp.5.000 saja untuk dewasa dan Rp.3.000 untuk anak-anak. Dari gate ini, kita akan menyusuri jalan yang tidak terlalu lebar yang sekaligus menjadi halaman beberapa rumah penduduk. Tidak jauh dari rumah-rumah penduduk itu, kita kemudian akan menemukan dan merasakan nilai-nilai luar biasa.
 
Track yang harus didaki, siap-siap ngos-ngosan

 
Taman Siti Nurbaya on top

1. Saksi Sejarah

Masih di track yang sama dari kita mulai masuk tadi, hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumah-rumah penduduk itu, kita akan menemukan dua bunker yang dibangun oleh Pemerintahan Jepang ketika menguasai Indonesia dulunya. Bunker-bunker ini dibangun menghadap ke arah laut yang disinyalir menjadi arah kedatangan musuh. Tidak beberapa jauh kedua bunker itu, kita kembali akan menemui bunker yang dilengkapi dengan sebuah meriam dengan ukuran yang cukup besar. Sama dengan dua bunker sebelumnya yang menghadap ke arah laut, bunker dengan meriam ini juga mengarah ke laut. Hingga hari ini bunker-bunker dan meriam peninggalan zaman Jepang tersebut masih utuh, bahkan tidak terdampak oleh gempa besar yang menimpa Padang pada tahun 2009 silam. Namun sangat disayangkan, bunker-bunker yang notabene memiliki nilai sejarah tinggi tersebut, tidak terawat dengan baik. Bahkan terlihat malah dijadikan tempat penyimpanan barang-barang bekas oleh penduduk yang tinggal di sekitar bunker tersebut. Alangkah lebih baiknya jika bunker-bunker tersebut dijaga dan dirawat dengan baik, serta dilengkapi dengan histori mengenainya, sehingga pengunjung dapat mengetahui sejarah di balik bunker-bunker tersebut. Semoga hal ini dapat diperhatikan lagi oleh instansi terkait.
 
Gunuang Padang Siti Nurbaya
Sayang sekali, bunker-bunker ini tidak terawat
 
Makam Siti Nurbaya
Meriam peninggalan sejarah

2. Legenda Cinta

Makam yang dipercaya sebagai makam Siti Nurbaya
Siapa yang tak kenal "Siti Nurbaya", sebuah legenda tentang kawin paksa dari Ranah Minang. Kisah cinta Siti Nurbaya ini dituliskan oleh Marah Rusli dalam novelnya yang berjudul Siti Nurbaya : Kasih Tak Sampai. Novel terbitan Balai Pustaka tersebut juga dituangkan ke layar kaca pada Era Orde Baru, yang kemudian juga menjadi film yang paling ditunggu-tunggu saat itu. Legenda cinta Siti Nurbaya, mengisahkan tentang Siti Nurbaya yang terpaksa harus menikahi seorang Bapak Tua namun kaya raya bernama Datuk Maringgih. Pernikahan paksa tersebut dikarenakan Siti Nurbaya ingin meringankan beban orang tuanya yang terbelit hutang kepada Datuk Maringgih. Tragisnya, Siti Nurbaya malah meninggal setelah diracun oleh suaminya sendiri. Sedangkan Datuk Maringgih sendiri meninggal di tangan Samsul Bahri; kekasih Siti Nurbaya, pada sebuah pertempuran.

Pedihnya kisah cinta tak sampai ini menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Sebagian orang percaya itu hanyalah sebuah legenda, namun tidak sedikit orang yang percaya bahwa Marah Rusli menceritakan sebuah kisah nyata. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya sebuah makam yang dipercaya sebagai makam Siti Nurbaya di Gunung Padang ini. Wallahu'alam

Kesan misterius makam Siti Nurbaya tersebut semakin kental dengan bentuk dan posisinya. Makam tersebut berbentuk batu nisan berwarna putih yang ditutupi sehelai kain yang berwarna putih pula. Makam ini bertempat di balik bebatuan besar, yang seolah-olah menaungi dan melindungi makam tersebut. Untuk bisa sampai ke makam tersebut, kita harus melewati celah batu seukuran tubuh manusia dan kemudian dilanjutkan dengan menuruni tangga yang cukup curam. Disarankan untuk hati-hati ketika melewati celah batu ini.

3. Panorama Indah
Menapak dan menanjak beberapa anak tangga lagi, kita akan sampai ke puncak Gunung Padang. Pemerintah Padang yang terus melakukan perbaikan, menghasilkan track yang semakin baik dari hari ke hari. Sesampainya di puncak Gunung Padang, kita akan menemukan sebuah taman yang sudah ditata dengan cukup baik, bernama Taman Siti Nurbaya. Lelah dan letih ketika menapaki jalan menanjak tadi akan terobati dengan pemandangan lepas 360 derajat di puncak. Jangan takut kehausan sesampai di puncak karena ada pedagang makanan kecil dan minuman ringan juga di sana. Taman ini dipenuhi dengan pohon-pohon rindang dan beberapa gazebo yang membuat suasana di taman ini semakin sejuk. Tolehlah ke arah utara dan timur, akan terlihat landscape Kota Padang yang dilatari oleh Gunung Merapi dan Gunung Singgalang nan megah. Ke arah selatan, kita bisa melihat Pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda Malin Kundangnya dilengkapi dengan gugusan pulau-pulau kecilnya. Sedangkan di barat, kita bisa menyaksikan birunya samudera Hindia yang terlihat tenang dari kejauhan.
 
View di sisi timur taman
 
View di sisi selatan
Taman Siti Nurbaya ini akan ramai pada hari libur, apalagi pada pagi hari. Karena track Gunung Padang ini telah menjadi track favorit warga Kota Padang untuk berolahraga saat ini. Suasana sejuk dan nilai-nilai luar biasa yang terdapat di lokasi wisata yang satu ini menjadi daya tarik paling kuat bagi pengunjungnya.

1 comment:

  1. Di Cianjur juga ada Gunung Padang. Tapi yang ini bangunan situs megalitik yang menghebohkan itu...

    Salam
    Okti Li
    Blogger Cianjur

    ReplyDelete

Cara ke Malaka dari Dumai, Kuala Lumpur, dan Penang

Dari Hat Yai (baca report-nya  di sini ), kami balik ke Penang. Destinasi selanjutnya adalah, Melaka, kota di Malaysia bersama Pen...