Monday, March 12, 2018

TINGGINYA TINGKAT PENGANGGURAN SARJANA DI SUMATERA BARAT

Dari zaman dulu, Sumatera Barat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ranah Minang telah disebut-sebut sebagai daerah penghasil orang-orang dengan berbagai macam keahlian yang tidak dapat dianggap remeh di Indonesia bahkan di dunia internasional. Yang paling tersohor adalah kepiawaian mereka dalam berniaga, slogan “pintar” berdagang itu telah melekat erat dengan orang-orang berdarah Minang. Sebut saja Tanah Abang, yang konon adalah pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara, 85% pedagang di sana adalah orang Minang. Atau coba saja datang ke pusat perbelanjaan Thamrin City di Jakarta Pusat, di lantai limanya terdapat sebuah segmen yang dikenal dengan nama Pasar Tasik. Walaupun mayoritas yang dijual adalah produk Tasikmalaya-Jawa Barat, namun hampir semua penjualnya berasal dari Ranah Rumah Gadang ini. Demikian juga pusat perbelanjaan lainnya yang ada di seluruh wilayah nusantara, akan sangat mudah kita temui pedagang asal Minagkabau, mulai dari pedagang kaki lima hingga ke pedagang kelas kakap. Demikian indahnya nama Ranah Minang bergaung di dunia perekonomian Indonesia.Namun, gema kesuksesan orang Minang di perantauan itu sedikit bertolak belakang dengan kenyataan yang ada di Ranah Minang itu sendiri. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Sumatera Barat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Sumatera Barat terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2017 lalu TPT di Sumatera Barat meningkat menjadi 5,58% dari 5,09% pada tahun sebelumnya. Kalau menurut jumlah, mencapai 12,8 ribu orang dalam setahun, sehingga secara keseluruhan jumlah masyarakat yang menganggur di Sumatera Barat pada tahun 2017 adalah sebanyak 138,70 ribu orang. Yang lebih miris lagi, jumlah pengangguran tersebut didominasi oleh lulusan Perguruan Tinggi, yaitu sebanyak 10,26%, yang juga mengalami peningkatan tajam dari tahun 2016 sebanyak 6,71%.uns-terima-7-440-mahasiswa-baru-95y5xe2qonKenyataan ini tentu sangat ironis sekali, mengingat orang Minang terkenal luas sebagai perantau, saudagar, bahkan pengusaha sukses, yang mempekerjakan banyak tenaga kerja. Namun malah di kampung halamannya sendiri, tingkat penganggurannya terus merangkak naik. Ada tanda tanya besar tentunya yang timbul terkait hal ini, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Mengapa gelar sarjana tidak lagi menjadi gelar prestisius di Ranah Minang saat ini? Bagaimana nasib tenaga kerja Ranah Minang bila masuk ke era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) nantinya, dimana mereka tidak hanya bersaing dengan sesama anak bangsa saja, namun juga dengan tenaga kerja yang berasal dari seluruh dunia?


 

[caption id="attachment_579" align="aligncenter" width="300"]2944_BADUNG_PENGANGGURAN Pencari kerja Sarjana mendominasi jumlah pengangguran  di Sum-Bar[/caption]

 

Ada beberapa penyebab yang bisa menjadi penyebab dari fakta tersebut, diantaranya:




  1. SKA (Skill, Knowledge, Attitude)


Memiliki nilai akademis yang excellent tentu akan sangat membanggakan, prediket “lulusan terbaik” atau “cum laude” sangat didamba-damba oleh hampir semua orang. Namun, jangan lupa di dunia kerja saat ini, ilmu pengetahuan yang mumpuni tidak akan cukup jikalau tidak diiringi dengan keterampilan dan sikap. Robert Half International, sebuah perusahaan konsultan di San Fransisco, melakukan survey terhadap 100 perusahaan terbesar di Amerika tentang alasan utama ketika memecat seorang pekerja. Ternyata alasan utama mereka memecat seorang pekerja adalah tidak memiliki kompetensi (30%), ketidakmampuan bekerjasama (17%), ketidakjujuran (12%), sikap negatif (10%), menolak perintah (7%), dan alasan lain-lain (8%). Walaupun persentase tertinggi adalah masalah kompetensi (knowledge dan skill) namun masalah terbanyak alasan terjadinya pemecatan oleh perusahaan adalah masalah sikap (attitude).  The Carniege Institute juga menganalisis dan menyimpulkan bahwa 15% kesuksesan berkaitan dengan pelatihan teknis (knowledge dan skill) dan 85% selebihnya adalah masalah kepribadian dan sikap.attitude5


Tidak dapat dipungkiri saat ini, secara kasat mata dapat terlihat, para generasi muda Ranah Minang saat ini yang notabene berlabel akademis nan baik yang tentunya juga memiliki knowledge dan skill yang bisa diacungi jempol tidak serta merta memiliki sikap yang baik pula. Padahal ketiga komponen tersebut, merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Perkembangan zaman terus menggerus attitude para generasi muda Minangkabau yang telah terkenal sebagai masyarakat yang santun namun gigih dan cerdas. Slogan “tau di nan ampek; mandata, manurun, malereang, mandaki” (empat cara bersikap; mendatar, menurun, melereng/miring, dan mendaki) tentang cara bersikap di lingkungan yang selalu diajarkan oleh nenek moyang pada masa lampau, sedikit demi sedikit mulai terkikis. Sehingga, terciptalah angkatan kerja seperti saat sekarang ini, memiliki nilai akademis dari knowledge dan skill yang bagus, namun sikap yang kurang baik.




  1. Pertumbuhan Ekonomi


Dibandingkan provinsi tetangga, Riau, Sumatera Barat masih tertinggal cukup jauh. Hal ini dapat terlihat dengan jelas dari perputaran ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Dari tahun 2000 hingga hari ini, tidak banyak perubahan secara mencolok dengan Sumatera Barat. Bandingkan dengan Riau, dalam kurun beberapa tahun saja, pembangunan infrastruktur terus menggeliat dengan pesatnya, perusahaan-perusahaan, hotel-hotel, pusat perbelanjaan dan berbagai bidang lainnya terus muncul yang tentu juga akan menyerap banyak tenaga kerja. Investor-investor lokal maupun asing terus berlomba-lomba untuk berinvestasi di provinsi tetangga. Menjadi PR besar bagi pemerintah daerah Sumatera Barat untuk terus menyusun strategi memajukan perekonomian Ranah yang Sumber Daya Alam (SDA)-nya tidak kalah kaya dibanding provinsi tetangga, sehingga tenaga kerja Sumatera Barat terserap semakin banyak.




  1. Mindset Karyawan


Perantau ulung yang cerdas dan gigih telah melekat erat dengan karakter masyarakat Minangkabau pada masa lampau, akan tetapi hal ini tidak lagi kita temui pada generasi muda Minangkabau pada saat ini. Rata-rata para pencari ilmu di perguruan tinggi saat ini bercita-cita ingin menjadi karyawan atau pekerja kantor. Memang secara tampilan umum, karyawan atau pekerja kantor memiliki penampilan yang terlihat bersih dan menarik, apalagi karyawan perusahan-perusahaan ternama. Namun, memiliki kemauan untuk memulai usaha sendiri akan lebih bermanfaat bagi orang banyak, ketika usaha yang dirintis telah berkembang dan kemudian dapat membuka lowongan kerja baru bagi orang lain. Generasi muda Ranah Minang saat ini perlu belajar kembali kepada nenek moyang mereka untuk bisa menjadi Boss untuk diri sendiri dan juga bagi orang lain.




[caption id="attachment_578" align="alignleft" width="300"]lulus-kuliah-sebaiknya-jadi-karyawan-kantoran-atau-pengusaha-FEn0jM0u87 Tampilan mentereng seorang pekerja kantoran memang lebih menarik.[/caption]

Keluar dari Comfort Zone dan terus menciptakan hal-hal baru yang bisa menjadi lapangan kerja baru bagi orang lain juga. Memang membuka usaha baru itu tidak semudah yang terlihat, ditambah lagi persaingan dan perkembangan zaman membuat hal ini semakin tidak mudah. Disitulah kecerdasan dan kegigihan orang Minang yang telah diturunkan secara genetis diperlukan untuk terus mencari peluang dan meningkatkan kreatifitas. Hampir semua saudagar sukses asal Ranah Minang yang saat ini telah berjaya di perantauan, bukanlah berasal dari keluarga kaya raya juga, rata-rata mereka bermula dari menjajakan dagangannya di kaki lima. Atau para cendekiawan sekelas Almarhum Buya Hamka atau Almarhum Bung Hatta sekalipun bukanlah anak konglomerat, mereka dapat sukses dan berjaya hingga ke dunia internasional dengan kegigihan dan kerja keras mereka.

 

 Referensi


https://sumbar.bps.go.id


https://www.roberthalf.com


https://carniege-institute.edu






 

No comments:

Post a Comment

Cara ke Malaka dari Dumai, Kuala Lumpur, dan Penang

Dari Hat Yai (baca report-nya  di sini ), kami balik ke Penang. Destinasi selanjutnya adalah, Melaka, kota di Malaysia bersama Pen...