Friday, March 2, 2018

Serak Gulo, (Bukan) Tradisi Minangkabau di Ranah Minang

Tulisan ini bukan bermaksud menyinggung soal SARA yang menjadi isu paling sensitif di negeri ini saat ini, uni hanya berniat memperlihatkan fakta untuk membukakan mata orang-orang yang belum paham betul, seperti apa kehidupan orang Indonesia (Padang khususnya) ini sebenarnya, toleransi yang bukan hanya sekedar orasi di mulut saja, namun telah dijalani oleh nenek moyang kita, jauh sebelum kita terlahir ke dunia.




Sebagaimana di blogpost sebelumnya, telah uni jelaskan bahwa banyak etnis yang hidup turun temurun di ranah kami dengan damai hingga beranak pinak, dan kesuksesan mereka (secara materiil) pun tidak kalah dibanding kami native-nya Ranah tercinta ini. Salah satunya adalah etnis keturunan India, kami menyebutnya orang kaliang (keling-red), nama yang (mungkin) dilekatkan berdasarkan warna eksotik kulit mereka yang kemudian juga dijadikan nama kawasan tempat tinggal mereka, Kampuang Kaliang.


Mayoritas etnis ini adalah muslim yang taat, maka tak heran di kampung mereka berdiri megah sebuah mesjid yang telah dibangun dari 200 tahun silam dan masih berfungsi dengan baik hingga hari ini, Mesjid Muhammadan namanya. Mereka tergabung ke dalam sebuah komunitas bernama Himpunan Keluarga Muhammadan. Ada sebuah tradisi unik etnis ini yang selalu diselenggarakan setiap tahunnya, merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang mereka. Uniknya lagi, tradisi ini hanya diselenggarakan di 3 tempat di dunia, yaitu di Padang, Singapura, dan di daerah asal mereka Nagapattinam (India). Tradisi tersebut bernama "Serak Gulo", serak berarti tabur, gulo berarti gula.


Tradisi Serak Gulo yang dalam Bahasa Tamil disebut dengan Sinni Fotu ini bertujuan untuk memuliakan hari kelahiran seorang ulama besar India yang bernama H.Imam Saul Hamid yang dianggap sebagai wali Allah. Konon, semasa hidupnya beliau adalah ulama yang pemurah dan suka memberi kepada siapapun. Selain itu, tradisi ini dijadikan sebagai ajang silaturahmi oleh warga keturunan India dengan masyarakat sekitar. Filosofi manisnya gula menggambarkan manisnya ilmu dan kebaikan yang telah disebarkan oleh Imam Saul Hamid dan manisnya toleransi beragama tanpa membeda-bedakan adat, suku, dan agama.


Tradisi ini diadakan setiap tanggal 1 Jumadil Akhir Hijriah, biasanya setelah sholat Ashar hingga sebelum waktu Sholat Magrib masuk. Ada 3 tahapan dalam pelaksanaan tradisi ini, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup. Pada tahap persiapan, mereka mempersiapkan gula pasir yang kemudian dikemas dalam bungkusan-bungkusan menggunakan kain warna-warni dengan berat 100 gram-500 gram, tidak ada takaran khusus, tergantung kepada niat dan keinginan para penyumbang saja. Bahkan gula tersebut juga disumbangkan oleh warga keturunan India yang berada di kota lain. Memasuki acara puncak, bungkusan-bungkusan gula tersebut dikumpulkan di atas teras mesjid, diikuti dengan doa bersama dan bacaan-bacaan sholawat untuk Rasulullah yang dipimpin oleh pemuka agama mereka. Kemudian para peserta akan dibagikan air asam beserta ampiang yang telah disediakan. Dilanjutkan dengan membentangkan bendera berwarna hijau (dengan lambang bulan dan bintang) di antara dua menara mesjid. Acara puncaknya adalah membagi-bagikan bungkusan gula tersebut kepada masyarakat dengan cara melemparkan secara acak kepada kerumunan masyarakat di halaman mesjid.



[caption id="attachment_571" width="225" align="aligncenter"]images (1) Gula dibungkus dengan kain warna-warni (pic by : imgrum.org)[/caption]

[caption id="attachment_573" width="253" align="aligncenter"]images (2) Bungkusan gula dikumpulkan di teras atas mesjid (pic by : kidalnarsis.com)[/caption]

Ribuan masyarakat berbagai etnis akan memenuhi pelataran halaman mesjid, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Padang berebutan bungkusan gula yang dilempar dari teras atas mesjid tersebut. Masyarakat telah siap dengan kantong plastik yang mereka bawa dari rumah masing-masing untuk mengumpulkan hasil 'tangkapan' mereka. Kita akan menyaksikan suasana saling rebut nan seru, dimana masyarakat saling rebut dan penuh sorak sorai, namun tidak ada keributan yang berujung perkelahian pada tradisi ini.



[caption id="attachment_570" width="302" align="aligncenter"]images Tradisi Serak Gulo tidak dinikmati oleh etnis tertentu saja (pic. by : harnas.co)[/caption]


Tradisi ini akan ditutup dengan pengajian dan tradisi Arak Cendana yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 Jumadil Akhir Hijriah, konon untuk memperingati kematian Sang Ulama H.Imam Shahul Hamid. Kegiatan ini masih berpusat di Mesjid Muhammadan, mesjid yang sama untuk tradisi Serak Gulo. Mereka akan membawa serbuk kayu cendana yang dioleskan ke wajah sambil membacakan shalawat, sekaligus mendoakan para leluhur dan kerabat mereka yang telah meninggal dunia sesuai dengan permintaan para penazar/penyumbang.


Tradisi Serak Gulo ini telah dilaksanakan dari ratusan tahun silam di Ranah Minang, bahkan saat ini telah masuk menjadi agenda tahunan pariwisata Ranah Minang. Walaupun suku Minang terkenal sangat kental dan taat dengan tradisinya, bukan berarti suku/etnis lain yang hidup di Ranah Minang tidak dapat melakukan ritual tradisinya sendiri. Tidak hanya di Padang saja, nyaris di seluruh wilayah Indonesia, beragam suku/etnis dapat hidup dengan damai, tanpa saling ganggu dan saling hina. Hal itu telah berjalan dari zaman nenek moyang kita dulu belum bisa sekedar buat baca tulis saja, lalu kenapa saat ini di saat teknologi sudah demikian canggih, di saat kita semua telah menjelma menjadi makhluk modern, kita semua paling mudah disulut dengan isu SARA??

No comments:

Post a Comment

Sehari di Malaka, Kemana Aja? (Destinasi Wisata Melaka)

Setelah dari Penang, perjalanan saya lanjutkan ke Malaka, menggunakan bus. Perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan ongkos 50 MYR. Saya amb...