Monday, March 12, 2018

Duhai Perempuan, Terhinalah, Terpujilah

Perempuan itu luar biasa, saat kecil ia membukakan pintu surga untuk ibunya, saat dewasa ia menyempurnakan agama suaminya, dan saat menjadi ibu, surga ada di kakinya (anonymous)

Bulan lalu kita kembali dikejutkan dengan berita tentang seorang ibu berinisial NLPSP di Bali yang melakukan upaya bunuh diri, tragisnya beliau mengajak serta 3 orang anaknya. Sebulan sebelumnya, kita juga dibuat menghela nafas berat mendengar bunyi berita yang sama dengan tempat kejadian yang berbeda. Kedua kasus itu hanya sebagian kecil dari berita-berita mengenai seorang ibu yang berupaya untuk mengakhiri hidupnya serta anak-anaknya, masih banyak lagi kasus-kasus serupa di tempat lain yang telah diberitakan di media informasi. Biasanya tidak lama setelah berita tersebut release, beragam komentar jagat raya dunia maya pun akan terlontar. Mulai dari komentar yang sekedar simpati kepada anak-anak almarhum, hingga ke cacian dan makian untuk sang ibu yang telah tega menghabisi nyawa buah hati nya sendiri yang telah dikandung dan dibesarkannya sekian lama. Sangat banyak sekali komentar-komentar yang menyudutkan si ibu, seolah-olah si ibu melakukan hal tersebut tanpa merasa bersalah. 
Beberapa bulan sebelumnya, beredar juga sebuah video yang kemudian menjadi viral di lini masa, video seorang anak gadis yang mendorong dan mengata-ngatai seorang artis sinetron berinisial JD, dari ucapan anak gadis itu jelas terdengar bahwa JD dituduh merebut ayah si gadis. Hanya hitungan detik setelah video tersebut diunggah, serbuan komen-komen penghuni dunia maya langsung tak terbendung. Komen dengan nada miring (pastinya) mendominasi video tersebut. Berbagai meme dan parodi mengenai video tersebut juga segera memeriahkan perdunia-mayaan Indonesia. Tak jauh beda dengan Ibu NLPSP di Bali, JD juga menuai cemoohoan dan komentar miring netizen Indonesia. Sumpah serapah untuk JD bagai air bah yang tidak terbendung lagi. 
Hal yang sama dengan cerita yang berbeda menimpa seorang teman baik saya, seorang (maaf) janda beranak satu yang sedang menjalin asmara dengan seorang bujangan. Seorang pria berusia 5 tahun lebih muda dari teman saya. Aneka ragam tudingan miring dari lingkungan di alamatkan ke teman saya tersebut. Berbagai gosip dan berita-berita tidak sedap tentang teman saya menjadi bahan obrolan paling menarik di komplek tempat tinggalnya. Semua orang seolah-olah menyudutkannya dan menunjuk bahwa ia lah manusia paling berdosa di atas dunia ini.

Dari ketiga cerita nyata di atas, terlihat jelas bahwa perempuan selalu saja menjadi sosok yang paling disalahkan untuk setiap masalah yang berkaitan dengan mereka. Untuk kasus ibu NLPSP di Bali, semua mata hanya tertuju kepada kesalahan si Ibu, tidak banyak orang berpikir bagaimanakah sang suami dari si ibu, apakah suami dari si ibu telah menjadi suami yang baik selama ini??? Atau adakah yang bisa mengira-ngira bagaimana kehidupan di lingkungan tempat tinggal si ibu, apakah para tetangga adalah tetangga yang hangat dan saling mendukung??? Bagaimana juga dengan pihak keluarga si ibu dan suaminya, sudahkah menjadi keluarga yang selalu menebarkan cinta??? Banyak hal yang bisa mempengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan, pasangan, lingkungan, keluarga, tingkat ekonomi, faktor religi, dan sebagainya. Maka terlalu dangkal jika kita langsung menunjuk si ibu sebagai ibu berdarah dingin yang rela membunuh 3 buah hatinya tanpa rasa bersalah sama sekali. 

Bagaimana untuk kasus JD dan teman baik saya itu??? Apakah pantas mereka berdua disalahkan sepenuhnya?? Bukan berarti membenarkan perbuatan JD (jika terbukti benar), saya juga sangat menyayangkan bully-an dan komentar pedas yang dilontarkan kepadanya. Mengapa hanya JD saja yang kita jadikan samsak kemarahan kita??? Mengapa tidak kita kaji kemungkinan Ayah si gadis juga memiliki kesalahan yang tidak lebih sedikit??? Apa mungkin tepuk akan berbunyi jika sebelah tangan saja??? Baiklah, JD adalah selebriti dengan track-record yang kurang baik, tapi dapatkah kita pastikan kalau dia akan selalu seperti itu??? Bukankah manusia tempatnya salah dan dosa?? Sedangkan teman baik saya, tidak ada satu pun ibu-ibu komplek yang getol membicarakan gosip itu tahu bahwa teman saya menggugat cerai suaminya karena suaminya menghamili seorang mahasiswa yang umurnya juga terpaut 10 tahun lebih muda. Lalu, apa salahnya teman saya yang sudah resmi berstatus single berhubungan dengan seorang pemuda single juga, walaupun usianya lebih muda??? Apa bedanya dengan mantan suaminya yang berhubungan dengan mahasiswa yang umurnya malah jauh lebih muda itu??? Tapi mengapa tidak ada yang menyalahkan si mantan suami?? Mengapa hanya menuding teman saya saja???

Bagaimana jika ada bapak-bapak yang terdengar mulai punya yang lain di luar?? Siapa yang disalahkan?? Si istri (perempuan) lagi, tidak bisa jaga penampilan lah, tidak pintar rawat diri lah, tidak bisa melayani suami lah, dan berbagai spekulasi lain, yang jelas memojokkan si perempuan. Coba lihat pasangan yang telah menikah cukup lama, fisik keduanya akan mengalami 'penambahan' volume kan?? Dapat dipastikan orang-orang akan menyarankan kepada si istri untuk diet dan atau olahraga di pusat kebugaran. Adakah yang akan menyarankan hal yang sama kepada si suami?? Ada sih ada, tapi tidak banyak. Masih banyak salah-salah lainnya yang dialamatkan kepada perempuan. 
Demikianlah kenyataan yang ada saat ini, permasalahan-permasalahan pribadi setiap orang menjadi ranah umum yang seolah wajar untuk dikonsumsi bersama-sama. Setiap orang bebas menunjuk dan menyatakan A benar B salah dan atau sebaliknya. Malah terkadang mereka terlalu serius untuk mengurusi dan mengomentari kehidupan orang lain, sehingga terlupa dengan kehidupannya sendiri. 

2 comments:

  1. Memang berat jd perempuan. Perempuan diciptakan dri tulang rusuk pria yg bengkok dan rapuh. Makanya kita perempuan tdk bisa di luruskan dg keras. Krn dampaknya bisa bermacam2 mulai dri sedih, hingga sakit, frustasi atau malah spt kasus ibu yg bunuh diri itu. Tdk bsa disalahkan satu pihak saja. Smoga para pria yg mendampingi wanita sllu mengerti para wanita nyaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mba, yang lebih bikin miris itu, malah kaum perempuan yang paling banyak menghujat perempuan yang lain 😢

      Delete

Apa yang Kau Ingat pada Februari?

Hai, kamu ingat ini hari apa? Valentine? Sudah berlalu dari 2 hari yang lalu. Ku yakin kau pasti lupa, coba lah pejamkan mata ...