Tuesday, February 27, 2018

Punya Anak di Usia Muda, Yey or Ney???

Semakin hari, pemahaman orang-orang tentang usia ideal untuk menikah semakin bertambah. Pada zaman nenek-nenek kita, perempuan yang menikah pada usia 10 - 15 tahun itu terbilang biasa, bahkan beberapa menikah setelah mendapatkan haid pertama. Semakin kesini, standar usia ideal perempuan untuk menikah pun berubah dan semakin bertambah, perempuan yang menikah usia belasan malah menjadi hal yang tidak biasa lagi, dan menjadi hal wajar ketika kita bertemu dengan perempuan-perempuan usia 30-an yang masih santai dengan status single.

Untuk ukuran zaman now, pernikahan saya termasuk terlalu muda. Saya menikah di usia 21 tahun dan setahun setelah itu saya pun menjadi ibu. Usia 20 tahun-an, di saat teman-teman seumuran saya sedang sibuk mengejar karir, saya malah sibuk memikirkan menu masakan hari perhari. Di saat teman-teman seumuran saya sibuk nongkrong sana-sini, saya malah sibuk meninabobokan bayi yang rewel pasca imunasi. Hahaha...terkesan menyedihkan sekali ya, namun kenyataannya, masih banyak hal baik yang bisa saya syukuri bisa menikah dan punya anak di usia yang terbilang muda.

1.  Pendewasaan diri

Banyak hal secara moril yang berubah dengan saya pasca menikah dan punya anak, perubahan yang lebih baik tepatnya. Menjadi istri sekaligus ibu yang tidak selalu didampingi suami selama 24 jam, ditambah lagi di perantauan tidak punya sanak saudara, menuntut saya untuk bisa menggantikan posisi suami sebagai nakhoda keluarga selama beliau sedang dinas keluar kota. Saya yang diawal teramat penakut berada sendiri di rumah apalagi pada malam hari, tiba-tiba menjadi berani melewati malam-malam yang hanya berdua bayi kecil itu saja. Saya yang semula tidak berani mengendarai sepeda motor ke jalan ramai, tiba-tiba merasa biasa aja harus berkendara roda dua itu ke jalan protokol yang berjarak belasan kilometer dari rumah kami, sambil bawa bocah pula. Saya yang ketika single susah minta ampun untuk bangun pagi, tiba-tiba bisa bangun sebelum azan subuh tanpa harus pakai alarm handphone. Dan banyak hal-hal magical lainnya yang terjadi dengan saya, setelah saya menikah dan jadi ibu.

2. Mengikuti perkembangan anak sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan

Semakin ke sini, model parenting pun terus berkembang. Usia saya yang relatif masih muda ketika menimang anak, membuat saya masih sedang haus-hausnya mencari referensi dan atau segala hal yang berkaitan dengan pola pengasuhan anak, atau parenting bahasa kerennya. Kemudahan yang di dapat di era digital ini pun mempermudah saya untuk menemukan berbagai sumber yang bisa saya pilih dan saya rasa cocok untuk pengasuhan anak-anak saya. Berbagai ilmu parenting yang saya dapat, bisa saya praktekkan kepada anak-anak saya. Selain itu, usia muda itu juga menguntungkan saya, dapat terus mengikuti mobilitas anak yang aktif tanpa ada keluhan (secara fisik) yang berarti. Syukur saya dapat mengASI anak saya hingga usia 2 tahun, mengurus mereka dengan tangan sendiri (tanpa ART). Walau kemudian saya juga bekerja, saya masih memiliki tenaga untuk menjemput dan mengantar sekolah mereka, atau untuk bermain bersama sepulangnya saya dari kantor. Bahkan, ketika mereka sudah beranjak remaja pun, ibunya yang belum tua-tua banget ini masih bisa menjadi teman diskusi mereka tentang trend hari ini, tentang film yang sedang diputar di cinema, atau tentang boyband-boyband keren idola mereka.

3. Menjadi teman baik anak

Tanpa terasa, waktu terus berlari, bayi-bayi yang kemarin masih pakai popok itu, sekarang sudah tumbuh menjadi remaja. Bagaimana hubungan orangtua-anak kemudian? Secara fisik, saya dan anak-anak terlihat seperti teman seumuran (kalau dilihat dari belakang), karena tinggi badan kami yang hampir sama, bahkan si sulung tingginya melebihi tinggi saya. Secara bathin, saya dan anak-anak terikat sangat kuat. Hubungan kami melebihi ibu dan anak, kami adalah sahabat. Kami saling curhat permasalahan pribadi kami, anak-anak curhat tentang kegiatannya di sekolah, saya curhat soal pekerjaan saya. Anak yang mulai kenal lawan jenis itu sering cerita tentang teman-teman yang disukai maupun yang tidak, saya pun senang bercerita tentang karakter teman-teman kantor saya kepada mereka.
Saya dan si sulung
4. Tujuan hidup semakin jelas

Sebelum menikah, saya tidak pernah punya target apa-apa, semua saya jalani seperti apa adanya. Hari ini ya hari ini, soal besok pikirin nanti. Hal itu berubah total setelah saya punya anak, beberapa goals hidup mulai tercipta dengan sendirinya dalam fikiran saya. Mulai dari fasilitas untuk anak-anak, hingga ke rencana hari tua saya nanti. Sedikit demi sedikit kualitas diri dan hidup saya pun saya perbaiki, tujuannya tak lain tak bukan karena saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya.

5. Pembagian tugas

Seiring pertumbuhan anak-anak menjadi remaja, saya pun bisa semakin fokus dengan karir saya yang sedikit tertinggal karena memilih fokus untuk masa kanak-kanak mereka dulu. Jikalau dulu saya sempat keteteran karena harus menyelesaikan peran istri/ibu di rumah dan peran sebagai karyawan di saat bersamaan. Maka sekarang, banyak pekerjaan domestik rumah tangga yang bisa saya bagi dengan anak-anak, bahkan ketika saya ditugaskan ke Indonesia bagian timur sana untuk beberapa saat, saya tidak terlalu khawatir memikirkan urusan anak-anak, karena selain ada keluarga yang siaga 24 jam menjaga mereka, mereka juga sudah terlatih dalam mengurus kebutuhannya masing-masing.
Kakak bertugas mengawasi adik di wahana permainan 
Setelah kurang lebih 14 tahun menjadi istri dan 13 tahun menjadi ibu ini, saya bersyukur dengan fase-fase yang telah saya lewati. Manusiawi rasanya, jika di awal-awal dulu saya sempat merasa down, dengan ketertinggalan saya dibanding teman-teman sejawat saya yang telah sukses dan berjaya. Namun, hari ini saya sadar bahwa setiap manusia memiliki area dan jalan ceritanya masing-masing, maka nikmatilah jalan hidup punyamu sebaik mungkin. So, kalau ada yang bertanya lagi ke saya, punya anak di usia muda, yey or ney????? Yeyyyyyyyyyyyyy :)

4 comments:

  1. ada plus minusnya sendiri ya, mbak punya anak di usia muda atau dewasa. saya sendiri punya anak di usia 32 tahun. plusnya mungkin emosi sudah lebih stabil dan lumayan banyak dapat ilmu soal parenting. minusnya jarak sama anak jadinya jauh banget dan fisik sudah nggak sefit dulu lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener mba, ada plus minusnya...saya sendiri pun merasakan kalau secara emosional saya matang diusia 30an ini.

      Delete
  2. kalo saya yeay mbakk.. punya anak umur 21 tahun nih.. hehe banyaaakkkkkkk suka duka-nya. tapi semua itu adalah hadiah terindah dari Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, apapun yang kita dapatkan adlaah yang terbaik untuk kita mba..

      Delete

Cara dari Vietnam ke Kamboja Via Darat (Bus)

Setelah semalam di Ho Chi Minh City (HCMC) atau yang dulunya disebut juga dengan nama Saigon, tujuan saya selanjutnya adalah negara tet...