Saturday, February 24, 2018

Orang Minang (Bukanlah) Intoleran

Beberapa waktu silam, emosi uni sempat terpancing ketika membaca cuitan seorang netizen yang menjadi viral. Cuitan itu menuliskan bahwa orang Padang (Minang-red) adalah suku primitif yang susah untuk menerima perubahan. Beragam tanggapan semesta alam maya pun bermunculan, pro dan kontra pastinya. Bukan bermaksud membela orang Minang karena uni juga orang Minang, tapi uni menjelaskan kondisi nyata yang ada di kampung uni.



Mungkin tidak banyak orang yang tahu di luaran sana, walaupun terkenal dengan masyarakat Muslim yang taat, Ranah Minang juga merupakan ranah yang multietnis. Ranah ini tidak hanya dihuni oleh suku native-nya saja, berbagai suku lain juga hidup dengan damai berdampingan, dan hal ini telah berjalan dari ratusan tahun silam, jauh sebelum manusia-manusia modern berkoar tentang toleransi.


Bagi yang pernah travelling dan atau city-tour di Kota Padang, pasti pernah lewat atau sengaja berkunjung ke Pondok, daerah Pecinannya Padang. Seperti namanya, Pondok atau kalau orang Padang bilang Kampuang Cino, merupakan sebuah perkampungan kecil yang penghuninya adalah keturunan Tionghoa. Di sini, kita dapat melihat bangunan-bangunan khas etnis bermata sipit ini yang sudah ada dari ratusan tahun silam, lengkap dengan klenteng dan tempat ibadah mereka.




[caption id="attachment_565" align="aligncenter" width="300"]SAMSUNG CAMERA PICTURES Salah satu rumah persemayaman di Kampuang Cino[/caption]

Mau coba kuliner khas Padang?? Pondok juga jadi salah satu destinasi wisata kuliner di Padang. Pasti sering dapat oleh-oleh keripik balado khas Padang C*******e H***m itu kan?? Jangan kira itu milik aktris senior Indonesia itu yaaa, tapiiiii...itu adalah milik seorang pengusaha dari etnis ini. Atau suka makan es durian yang paling terkenal di Padang itu?? Ada beberapa cafe es krim yang ada di kawasan Pondok ini, dan semua itu adalah milik etnis ini. Dan masih ada beberapa tempat kuliner ajib yang dapat kita temui di Kampuang Cino ini. Maka, jangan heran, kalau kalian bertemu dengan orang-orang berkulit putih dengan mata sipit, namun logat mereka Minang banget yaaa....karena memang mereka lahir dan besar di Ranah Rumah Gadang ini, mulai dari nenek moyang mereka dulunya.




[caption id="attachment_562" align="aligncenter" width="300"]P_20150530_211018_HDR Salah satu tempat kuliner favorit di Kampuang Cino[/caption]

Tidak jauh dari Kampuang Cino ini, ada lagi sebuah perkampungan kecil yang penghuninya adalah masyarakat keturunan India, Kampuang Kaliang (Kampung Keling) namanya. Nama Kaliang atau Keling dilekatkan dari warna kulit kebanyakan mereka. Di kampung ini, mereka hidup turun temurun sudah sejak sekitar 200 tahun yang lalu, dengan adat dan kebudayaan mereka. Sebagai bukti, di kampung ini dapat kita temui sebuah mesjid yang sudah dibangun oleh etnis ini dari 200 tahun yang lalu, dan masih terawat hingga kini.




[caption id="attachment_563" align="aligncenter" width="300"]17126804_1869191979963920_8028845046612623360_n Mesjid tua yang sudah jadi cagar budaya di Kampung Keling[/caption]

Hanya berjarak sepelemparan batu dari Kampuang Kaliang, kita dapat menemukan sebuah Kapel bergaya Eropa. Kapel ini bernama Kapel Susteran St Leo, Kapel tertua di Sumatera Barat yang sudah ada dari zaman Belanda. Walaupun gempa pada tahun 2009 menghancurkan bangunan ini, namun bangunan ini kembali dibangun dan saat ini kembali berfungsi seperti semula.




[caption id="attachment_564" align="aligncenter" width="300"]gerejapadang Kapel Susteran St Leo pasca gema 2009[/caption]

Tiga contoh di atas, hanya sebagian kecil dari etnis yang hidup dengan damai secara turun temurun di Ranah Minang. Semakin hari, keragaman etnis di Ranah Minang juga semakin bertambah, berbagai etnis lainnya dengan adat dan kebudayaan mereka masing-masing juga semakin meramaikan kemultietnisan Ranah Minang ini. Kami hidup dengan damai berdampingan dan saling menghargai. Mereka, etnis selain etnis Minangkabau itu, dapat hidup dan mencari rejeki dengan damai di daerah kami, tidak pernah ada persekusi atau sejenisnya untuk mereka yang memiliki budaya atau kepercayaan yang berbeda dengan kami. Bahkan seingat uni, tidak pernah ada perang atau kisruh antar suku maupun antar agama di kampung uni, semua dapat hidup dan mengais rejeki dengan tenang di ranah kami.


So, bagi orang-orang yang menuding kami, orang Minang ini sebagai orang primitif yang intoleran, suruh sering-sering main ke perpustakaan baca buku sejarah Indonesia ya :)

3 comments:

  1. bagus tulisannya uni.
    semoga banyak tulisan-tulisan menarik selanjutnya.

    ReplyDelete
  2. Aamiinnn...makasih sudah mampir Bennn...:)

    ReplyDelete
  3. Ada lagi di dekat pondok namanya kampung nieh (Nias).
    Bagus tulisannya

    ReplyDelete

Air Terjun Nyarai, Wisata Anti-Mainstream di Sumatera Barat

Jam Gadang di Bukittinggi, Pantai Gandoriah di Pariaman, Istano Pagaruyung di Batusangkar, atau yang katanya mirip Raja Ampat Papua wisa...