Tuesday, January 30, 2018

Gulo Saka, Si Hitam Manis dari Ranah Minang

Saka, demikianlah orang Minang menyebut nama benda hitam manis ini. Ada 2 jenis saka di Ranah Minang, Saka Tabu (dari tebu) dan Saka Anau (dari aren). Tempat pengolahan saka tersebar di beberapa daerah di Ranah Minang. Pada dasarnya, proses pembuatan Saka Tabu dan Saka Anau sama saja, hanya berbeda pada bahan baku yang digunakan. Pada blogpost kali ini, uni akan menceritakan tentang proses pembuatan Saka Tabu, kebetulan beberapa waktu lalu uni berkesempatan mendatangi sebuah kampung sentra pembuatan Saka Tabu secara tradisional di Kabupaten Agam.





[caption id="attachment_555" align="aligncenter" width="300"]Gula Merah Batok Super (Masak) Gula merah alias Saka siap dipasarkan[/caption]

Puncak Lawang, sebuah daerah dataran tinggi di Kabupaten Agam. Seperti karakteristik daerah dataran tinggi lainnya, Puncak Lawang adalah daerah yang sejuk dan subur. Lingkungan hijau dengan beraneka tumbuhan membuat semua orang betah untuk berlama-lama di sana. Salah satu tanaman yang banyak tumbuh di sana adalah Tebu. Akan sangat mudah sekali menemui kebun tebu di kiri-kanan jalan, di antara rumah-rumah penduduk. Tebu-tebu itulah yang kemudian diolah oleh masyarakat untuk menjadi gula merah atau saka. Di antara kebun-kebun tebu tersebut, bisa juga dijumpai, tempat pengolahan Saka yang oleh masyarakat Minang disebut dengan istilah Kilang.



[caption id="attachment_548" align="aligncenter" width="262"]saka 3 Kebun tebu di kiri-kanan jalan[/caption]

Salah satu kilang yang saya temui di Puncak Lawang adalah Kilang Tebu Dt. Panghulu Sati, yang berada di Jalan Panorama Puncak Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Di sini, tebu-tebu hasil panen diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan gula merah yang manis, asli alami tanpa ada tambahan zat-zat pengawet maupun pemanis buatan.



[caption id="attachment_554" align="aligncenter" width="219"]tebu 3 Kilang tebu tradisional yang sudah berdiri dari tahun 1940-an[/caption]

Langkah awal dari pengolahan Saka tersebut adalah memeras air tebu. Setelah tebu-tebu dibersihkan, kemudian diperas dengan cara menggilingnya sampai air tebunya keluar menggunakan alat penggiling yang akan digerakkan oleh kerbau. Di pundak kerbau diletakkan sebuah kayu yang terhubung ke alat penggiling. Mata kerbau ditutup menggunakan tempurung (batok) kelapa lalu diikat dengan kain, dengan demikian kerbau akan patuh dan terus jalan berputar sesuai lintasan penggilingan. Ketika kerbau berjalan, alat penggiling tebu juga ikut berputar menggiling tebu yang diletakkan di antara alat penggiling tersebut. Kemudian air tebu yang keluar dari tebu akan ditampung di sebuah wadah yang diletakkan di bawah penggiling tebu. Proses penggilingan tebu ini memakan waktu selama kurang lebih 1 - 1,5 jam.



[caption id="attachment_553" align="aligncenter" width="212"]unikeke.wordpress.com Mata kerbau harus ditutup terlebih dahulu, supaya tetap patuh jalan berputar[/caption]

Setelah air tebu terkumpul dan dirasa cukup, langkah selanjutnya adalah memasaknya. Air tebu tersebut dituang di sebuah wajan besar untuk kemudian dipanaskan di sebuah tungku berbahan bakar kayu dan ampas tebu, sampai air tebu itu mengental dan berubah warna menjadi coklat kemerahan. Pasta air tebu tersebut, dituangkan dan dicetak ke dalam cetakan-cetakan kayu ataupun bambu. Tidak sampai dua menit, pasta itu akan mengeras dan siap dipasarkan. Sekedar informasi, air perasan tebu sebelum diolah juga sedap diminum, apalagi ditambah dengan es batu dan diminum disaat panas terik. Buat kalian yang main ke Puncak Lawang atau Bukittinggi, jangan lupa mampir ke Kilang Tebu juga ya.



[caption id="attachment_556" align="aligncenter" width="300"]Air-Tebu Air tebu, sehat dan menyegarkan[/caption]

No comments:

Post a Comment

Cara ke Malaka dari Dumai, Kuala Lumpur, dan Penang

Dari Hat Yai (baca report-nya  di sini ), kami balik ke Penang. Destinasi selanjutnya adalah, Melaka, kota di Malaysia bersama Pen...