Friday, November 3, 2017

Rumah Gadang Minangkabau

Halo dunsanak semuanya, mohon maaf karena kesibukan uni belakangan ini, membuat blog ini sedikit terabaikan ya. Pada ulasan kali ini, uni akan membahas tentang rumah adat Minangkabau yang lebih sering dikenal dengan sebutan Rumah Gadang.




[caption id="attachment_463" align="aligncenter" width="300"]Rumah-Gadang (1) Rumah Gadang ; rumah adat Minangkabau[/caption]


Fungsi Rumah Gadang


Saat ini, kita menjumpai Rumah Gadang berfungsi sebagai ikon Sumatera Barat atau beberapa juga berfungsi sebagai museum yang digunakan untuk menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun pada masa lalu, Rumah Gadang berfungsi lebih dari hanya sekedar ikon kebanggaan. Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat untuk berkumpul, tempat kediaman, tempat bermusyawarah, dan juga tempat untuk melakukan upacara-upacara adat. Satu Rumah Gadang dihuni oleh beberapa kepala keluarga yang berasal dari marga/kaum yang sama.


Bagian Rumah Gadang 


Selain kamar tidur, Rumah Gadang hanya berbentuk ruang lepas. Jumlah kamar berdasarkan jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya dan biasanya berukuran kecil yang hanya bisa memuat tempat tidur dan lemari saja, karena kamar memang digunakan hanya untuk tidur dan berganti pakaian saja. Di ujung kiri dan kanan bangunan terdapat Anjuang, Anjuang sebelah kanan merupakan kamar anak-anak gadis, sedangkan Anjuang sebelah kiri merupakan tempat kehormatan bagi para Penghulu di setiap upacara adat.




[caption id="attachment_464" align="aligncenter" width="225"]24 Selain kamar tidur, Rumah Gadang terdiri dari ruang lepas saja.[/caption]

Ada aturan-aturan pembagian kamar di setiap Rumah Gadang. Setiap perempuan yang bersuami mendapat satu kamar, kamar yang paling kiri dikhususkan bagi pengantin baru, sedangkan kamar yang paling kanan adalah kamar bersama para gadis. Pada gilirannya para gadis itu akan berpindah ke tengah dan mendapat kamar sendiri setelah menikah. Perempuan tua dan anak-anak mendapatkan kamar dekat dapur, sedangkan laki-laki tua, duda, dan bujangan tidur di surau milik kaum/marganya masing-masing.



 

 

[caption id="attachment_466" align="aligncenter" width="300"]750x500xnantigo-3.jpg.pagespeed.ic.6F0nz4nZPI Ada peraturan tersendiri tentang pembagian kamar tidur[/caption]

Di halaman depan rumah terdapat 2 buah Rangkiang yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi dan hasil kebun lainnya. Tidak jauh dari komplek Rumah Gadang, terdapat sebuah surau marga/kaum. Surau tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, namun juga berfungsi sebagai tempat pendidikan dan tempat tinggal bagi laki-laki dewasa yang belum menikah.




[caption id="attachment_462" align="aligncenter" width="300"]sekilas gambaran tentang rangkiang minangkabau Dua Rangkiang di depan rumah berfungsi sebagai tempat penyimpanan[/caption]

Bagian kolong Rumah Gadang yang sekelilingnya ditutup dengan ruyung berkisi-kisi jarang berfungsi untuk menyimpan alat-alat pertanian, atau juga tempat kaum perempuan bertenun.


Arsitektur Rumah Gadang

Rumah Gadang dibangun dari material alami. Tiang penyangga, dinding, dan lantai terbuat dari papan kayu dan bambu, sementara atap yang menyerupai tanduk kerbau itu terbuat dari ijuk. Rumah adat tersebut juga didesain tahan gempa, mengingat ranah minang berada di daerah yang rawan gempa. Tiang-tiang besar yang berada di tengah rumah, tidaklah tertancap ke tanah, namun diletakkan dan bertumpu di atas batu-batu datar di atas tanah. Sementara setiap sambungan-sambungannya tidaklah disatukan menggunakan paku, namun menggunakan pasak yang terbuat dari kayu. Dengan desain dan material yang digunakan tersebut, maka Rumah Gadang tidak akan rubuh dan akan bergerak secara fleksibel mengikuti getaran gempa berskala besar sekalipun.




[caption id="attachment_467" align="aligncenter" width="300"]13694635_913879445401762_742887338_n Tiang dan pasak-pasak pada Rumah Gadang (masa lalu)[/caption]

Jika dilihat secara keseluruhan, Rumah Gadang dibangun tidak saja sesuai nilai-nilai estetika saja, namun juga mengikuti filosofis Minangkabau itu sendiri yang disesuaikan juga dengan alam tropis tempat tinggal mereka. Atap yang dibangun lancip tinggi berbahan ijuk itu dimaksudkan agar air hujan (seberapapun derasnya) dapat langsung turun ke atap. Bentuk rumah berupa segi empat yang membesar ke atas (tak ubahnya seperti trapesium terbalik) berfungsi untuk membebaskan mereka dari terpaan tampias. Kolongnya yang tinggi memberikan hawa yang segar, terutama pada musim panas. Demikian juga dengan bangunan Rumah Gadang yang dibangun berjajaran menurut arah mata angin dari utara ke selatan dapat membebaskannya dari panas matahari serta terpaan angin.


Rumah Gadang Masa Kini

Namun sayang, seiring perubahan zaman, perkembangan dan pergeseran tersebut juga menimpa Rumah Gadang. Baik dari fungsi hingga ke arsitektur Rumah Gadang tidak lagi berfungsi seperti awalnya. Bahkan tidak jarang Rumah Gadang yang terbengkalai, lapuk, dan rubuh karena ditinggal merantau oleh penghuninya. Sangat amat disayangkan sekali sebenarnya, karena Rumah Gadang adalah salah satu peninggalan nenek moyang yang harus kita rawat dan banggakan ke anak cucu nantinya dan ke dunia luas pada umumnya.




[caption id="attachment_456" align="aligncenter" width="282"]1425869814359576174 Hanya satu kata....trenyuh :([/caption]

No comments:

Post a Comment

Cara ke Malaka dari Dumai, Kuala Lumpur, dan Penang

Dari Hat Yai (baca report-nya  di sini ), kami balik ke Penang. Destinasi selanjutnya adalah, Melaka, kota di Malaysia bersama Pen...