Thursday, November 30, 2017

Prosesi Pernikahan Ala Minangkabau

Setelah pada blogpost yang lalu uni menjelaskan tentang proses-proses pra-nikah ala Minangkabau, kali ini uni akan lanjutkan dengan proses-proses lanjutan yang harus dijalani oleh kedua mempelai yang tidak kalah uniknya dengan proses pra-nikah. Simak ya...!



1. Babako 


Kata 'babako' berasal dari kata 'bako', berarti keluarga dari pihak ayah. Memang pada proses ini, keluarga dari pihak ayah (bako) mempelai wanita lah yang mengambil bagian. Bako ingin memperlihatkan kasih sayangnya kepada dengan ikut serta menanggung biaya pernikahan sesuai dengan kemampuannya. Acara ini biasanya diadakan beberapa hari sebelum akad nikah. Calon mempelai wanita akan dijemput dan dibawa ke rumah bako-nya dan disana para tetua akan memberikan nasehat pernikahan. Keesokan harinya, mempelai wanita yang telah didandani dan memakai baju adat akan diarak kembali ke rumahnya dan diiringi oleh para bako-baki dengan membawa berbagai macam barang bantuan (hantaran) yang telah dipersiapkan. Barang bantuan (hantaran) tersebut biasanya berupa sirih lengkap, nasi kuning plus singgang ayam, beragam kue dan lauk-pauk lainnya, hingga perlengkapan pribadi si mempelai wanita seperti : perhiasan, pakaian, kosmetik, dan sebagainya.


2. Malam Bainai


Malam bainai diadakan pada malam hari sebelum dilangsungkannya akad nikah. Inai dibuat dari daun pacar merah yang ditumbuk halus dan dilekatkan ke kuku-kuku dan jari-jemari calon mempelai wanita. Tidak hanya sekedar mewarnai kuku dan jari saja, pada malam bainai ini, calon mempelai wanita juga mandi air kembang tujuh rupa yang telah disiapkan oleh keluarga. Calon mempelai wanita tersebut juga didandani dan menggunakan baju adat, duduk di tempat yang telah disediakan dan diapit oleh teman-teman sebayanya. Secara simbolik, calon mempelai wanita dimandikan dengan cara memercikkan air kembang tujuh rupa oleh para sesepuh dan kedua orang tua, hal ini menggambarkan rasa sayang keluarga serta doa restu yang telah diberikan oleh keluarga pihak mempelai wanita. Selanjutnya, inai pun dipasangkan di kuku-kuku calon mempelai wanita. Pihak keluarga biasanya juga akan menyuguhkan hidangan penganan-penganan tradisional bagi warga, disertai dengan penampilan kesenian tradisional seperti : rabab, randai, maupun saluang.




[caption id="attachment_535" align="aligncenter" width="300"]imgrum.com Bainai - Pict by : imgrum.org[/caption]

3. Manjapuik Marapulai


Manjapuik berarti menjemput, marapulai berarti mempelai pria. Jadi manjapuik marapulai berarti menjemput mempelai pria. Ya, inilah uniknya, pihak keluarga mempelai wanita akan datang ke rumah pihak keluarga pria membawa berbagai hantaran seperti : sirih lengkap, payung kuning, pakaian pengantin pria lengkap, nasi kuning dan singgang ayam, kue-kue dan juga buah-buahan. Kalau di betawi ada proses buka palang-pintu, di Minangkabau ada proses sambah-manyambah. Ninik-mamak dari kedua pihak keluarga akan saling berbalas pantun mengungkapkan maksud dan tujuan kedatangan. Setelah hantaran di serahkan, baru lah marapulai bisa dipakaikan pakaian pengantin dan di arak bersama-sama ke rumah calon mempelai wanita.




[caption id="attachment_538" align="aligncenter" width="300"]14073102_1376100152417436_1223908703_n Manjapuik marapulai - Pict by : imgrum.org[/caption]

Pada proses ini, juga dilakukan musyawarah pemberian gelar pusaka kepada calon marapulai. Hal ini berarti bahwa sang calon marapulai telah masuk ke fase kehidupan dewasa. Setelah gelar tersebut disepakati kedua belah pihak keluarga, mulai detik itu juga sang mempelai (harus) dipanggil berdasarkan gelar pusaka-nya. Misalnya, seorang marapulai yang bernama Johan (hanya contoh-red) yang diberikan gelar Sutan Rajo Ameh. Maka,  mulai saat itu keluarga harus memanggilnya dengan nama Sutan.

4. Penyambutan di Rumah Anak Daro (Mempelai Wanita)


Rombongan arak-arakan yang menjemput marapulai akan disambut dengan meriah di rumah anak daro. Tari Galombang oleh pemuda-pemudi yang diiringi dengan dengan musik tradisional seperti talempong dan gandang tabuik yang pertama kali akan disuguhkan, kemudian para dara yang berpakaian adat akan menyuguhkan sirih lengkap di atas carano kepada marapulai dan rombongan. Diperlengkap dengan taburan beras kuning dari para sesepuh wanita yang kemudian diikuti dengan membasuh kaki marapulai sebelum masuk rumah.




[caption id="attachment_536" align="aligncenter" width="300"]bitlanders.com Tari Galombang untuk menyambut kedatangan rombongan marapulai - Pict by : bitlanders.com[/caption]

5. Akad Nikah


Orang Minang terkenal sebagai muslim yang taat, maka tidak heran jika proses akad nikah akan berlangsung secara kaidah islam.


6. Basandiang


Basandiang berarti bersanding di pelaminan. Setelah dinyatakan sah sebagai suami-istri, maka kedua mempelai akan duduk berdua bersanding di pelaminan. Akan ada jamuan makan bagi para tamu undangan, serta pertunjukan kesenian baik tradisional (maupun modern) di halaman rumah.




[caption id="attachment_539" align="aligncenter" width="300"]armetra.com Acara puncak, Basandiang. Pict by : armetra.com[/caption]

Apakah setelah sah menikah dan bersanding di pelaminan, maka prosesi pernikahan itu selesai? Belum, masih ada beberapa rangkaian proses lagi yang harus dilalui. Apa saja itu? Simak di blogpost selanjutnya ya :)

2 comments:

  1. […] melewati beberapa rangkaian tradisi adat sebelum pernikahan dan pada hari H pernikahan, masih ada serangkaian prosesi adat lagi yang harus dilaksanakan oleh sepasang pengantin […]

    ReplyDelete
  2. […] (baralek), biasanya diadakan pada saat “malam bainai” (malam sebelum hari H), baca disini. Namun seiring waktu, permainan ini pun tidak lagi hanya pada acara kenduri saja, namun bisa juga […]

    ReplyDelete

Panduan Traveling ke Ho Chi Minh City - Vietnam

Mendengar beragam cerita kurang sedap tentang Vietnam malah membuat saya semakin penasaran dan tidak sabaran untuk mendatanginya. Berb...