Monday, October 2, 2017

Festival Tabuik, Perayaan Muharam di Minangkabau

Halo dunsanak, mumpung masih hangat-hangatnya suasana Muharam, uni ingin membahas tentang tradisi yang ada di ranah Minang dalam rangka menyambut bulan (tahun) baru Hijriah ini. Simak yuk...!

Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya muslim, bulan Muharam sebagai tanda pergantian tahun Hijriah (tahun baru Islam) merupakan bulan yang istimewa bagi masyarakat Indonesia. Berbagai perayaan dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia untuk menyambut kedatangan tahun baru serta beberapa hari istimewa yang ada selama bulan tersebut, baik secara keagamaan maupun secara tradisional. Sebagai negeri dengan beragam suku, maka perayaannya juga dengan cara yang berbeda-beda. Sebut saja tradisi Kungkum di Semarang, Mubeng Benteng di Jogjakarta, Kirab Muharam di Surakarta, Ngadulag di Sukabumi, Tabot di Bengkulu, Nganggung di Pangkal Pinang, dan berbagai macam tradisi lainnya dari seluruh pelosok Indonesia. Begitu juga di Sumatera Barat, Muharam menjadi bulan yang istimewa bagi masyarakatnya yang terkenal sebagai masyarakat yang religius. Yang paling menarik untuk dibahas adalah Festival Tabuik, sebuah tradisi yang selalu diadakan setiap tahunnya oleh masyarakat Minangkabau yang ada di Pariaman.


 

Konon festival ini telah diadakan oleh masyarakat Pariaman sejak abad ke-19 Masehi. Istilah Tabuik berasal dari Bahasa Arab “Tabut” yang bermakna peti kayu (seperti peti mati). Apa hubungan Bulan Muharam dengan peti mati?? Ya, festival ini memang bagian dari peringatan wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Husein Bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharam. Konon lagi, peti mati yang berisi potongan tubuh Husein Bin Ali tersebut diterbangkan ke langit oleh makhluk berwujud kuda bersayap berkepala manusia yang bernama Buraq. Berdasarkan legenda yang dikisahkan turun temurun itulah, setiap tahunnya masyarakat Pariaman membuat tiruan Buraq yang sedang mengusung Tabut di punggungnya. Mulai tahun 1982, perayaan ini pun masuk ke kalender tahunan pariwisata Kabupaten Padang Pariaman.




[caption id="attachment_474" align="aligncenter" width="300"]4__Sebelum_diarak_ke_laut,_tabuik_dari_pasa_dan_subarang_dihadapkan_dan_dihoyak_secara_bersamaan Tabuik telah menjadi agenda tahunan pariwisata Padang Pariaman (Pic by Indonesiakaya.com)[/caption]

Festival Tabuik ini terdiri dari 7 rangkaian ritual, dimulai dengan ritual mengambil tanah pada tanggal 1 Muharam, menebang batang pisang pada tanggal 5 Muharam, mataam pada tanggal 7 Muharam yang dilanjutkan dengan mangarak jari-jari pada malam harinya, mangarak saroban pada tanggal 8 Muharam. Dua ritual selanjutnya diadakan pada hari puncaknya yaitu tanggal 10 Muharam, yaitu ritual tabuik naiak pangkek yang dilanjutkan dengan ritual hoyak tabuik. Sebagai ritual penutup, menjelang magrib  tabuik diarak menuju Pantai Gandoriah dan dilarung ke laut.




[caption id="attachment_475" align="aligncenter" width="300"]antarafoto-tabuik-dibuang-ke-laut-161016-ief-1 Acara puncak : Tabuik dilarung ke laut (Pic by tirto.id)[/caption]

Ada dua tabuik yang dilarung setiap tahunnya, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Tabuik Pasa berarti tabuik yang dibuat oleh masyarakat pasa (pasar), sedangkan Tabuik Subarang  dibuat oleh masyarakat yang tinggal di seberang, daerah pasar dan daerah subarang tersebut dipisahkan oleh sebuah sungai.




[caption id="attachment_476" align="aligncenter" width="300"]antarafoto-tabuik-dibuang-ke-laut-161016-ief-2 Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang diarak bersama-sama. (Pic by : tirto.id)[/caption]

Puncak perayaan tabuik ini selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh para wisatawan, sehari itu Kota Pariaman –Pantai Gandoriah khususnya- bagai menjadi lautan manusia yang didesaki oleh puluhan ribu pengunjung. Meski berdesakan, para pengunjung tetap antusias mengikuti tradisi tahunan ini. Biasanya, setelah tabuik dilarung ke laut, warga langsung berebutan untuk mengambil ornamen-ornamen tabuik yang diyakini dapat memberi manfaat.


Seiring perkembangan zaman, perayaan ini pun berkembang menjadi festival budaya. Perayaan tabuik ini tidak hanya sekedar melepas tabuik ke laut saja, namun juga dilengkapi dengan penampilan kesenian tradisional khas Minangkabau. Hari puncaknya pun tidak mesti tepat pada tanggal 10 Muharam lagi, namun disesuaikan dengan hari libur / akhir minggu dengan harapan pengunjung yang semakin ramai.




[caption id="attachment_477" align="aligncenter" width="300"]6__IMG_2555_Pada_hari_puncak_ritual_tabuik,_masyarakat_dari_berbagai_penjuru_Sumatera_Barat_datang_dan_ikut_menyaksikannya Antusias masyarakat menyaksikan Tabuik tidak pernah berkurang dari tahun ke tahun (Pic by indonesiakaya.com)[/caption]

Bagaimana dunsanak? Tertarik untuk menyaksikan Festival Tabuik langsung dari Pariaman? Tahun depan lagi ya, karena untuk tahun 2017 ini, Festival Tabuik sudah diadakan pada hari Minggu tanggal 01 Oktober 2017.

No comments:

Post a Comment

Sehari di Malaka, Kemana Aja? (Destinasi Wisata Melaka)

Setelah dari Penang, perjalanan saya lanjutkan ke Malaka, menggunakan bus. Perjalanan kurang lebih 7 jam, dengan ongkos 50 MYR. Saya amb...