Thursday, August 24, 2017

Pinisi, Legenda Kebanggaan Indonesia

Berawal dari membaca Novel "Rindu"-nya Bang Tere Liye yang menceritakan berbagai romantika kehidupan manusia di sebuah kapal besar yang bermuatan ribuan umat islam yang ingin menunaikan ibadah haji. Mengambil setting waktu Tahun 1938 H, Tere Liye menggambarkan dengan gamblang perjalanan Haji pada saat itu membutuhkan waktu berbulan-bulan. Di dalam novel tersebut juga disinggung tentang Kapal Pinisi yang banyak dimiliki oleh orang Bugis, rata-rata pemiliknya adalah saudagar yang menggunakan kapal-kapal kayu tersebut untuk berdagang ke seluruh nusantara. 




Tidak lama setelah membaca novel itu, saya membaca iklan sebuah biro perjalanan wisata yang menawarkan paket liburan ke sebuah pulau di timur Indonesia menggunakan Kapal Pinisi. "Wow, luar biasa, ternyata masih ada Kapal Pinisi hari ini" bathin saya. Jujur, dalam pikiran saya Kapal Pinisi hanya ada di masa lampau, seperti yang diceritakan oleh Tere Liye pada novelnya tersebut. Tertarik dengan hal itu, saya langsung mencari informasi tentang Kapal Pinisi, yang kemudian membuat saya mengetahui beberapa fakta yang meningkatkan rasa syukur dan bangga menjadi warga Indonesia, negeri maha kaya. 

Kapal Pinisi adalah kapal layar kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan (Indonesia umumnya) yang telah terkenal di seluruh dunia dari abad 14 silam hingga kini. Kapal ini sangatlah istimewa, bukan hanya karena merupakan produk asli Indonesia, namun juga karena proses pembuatannya. Kapal Pinisi di buat secara tradisional (hand-made) oleh para pengrajin ahli di Sulawesi Selatan. Dan yang paling luar biasa adalah seluruh bagiannya terbuat dari kayu dan dirangkai tanpa menggunakan paku. Namun demikian, kapal ini tetap bisa berlayar hingga ke seluruh belahan dunia menaklukkan ombak dan badai di lautan lepas. Terbukti kapal ini merupakan satu-satunya kapal kayu besar yang masih diproduksi dari masa lampau hingga saat sekarang ini. Bagaimana saya tidak bangga, ketika saya tinggal di negara dengan orang-orang kreatif penghasil kapal kayu tanpa paku yang terkenal itu.


Sumber : kaskus.co.id
Kapal ini berukuran sekitar 15-40 meter (tergantung pemesan), di tengah kapal ada 2 buah tiang setinggi kurang lebih 35 meter dengan 7 buah layar yang terpisah-pisah dari depan sampai belakang. Kapal ini dibuat dengan peralatan sederhana oleh 10 orang Sawi (tukang pembuat kapal) dengan seorang Punggawa (Kepala Tukang) sebagai pemimpin. Bahan utama untuk membuat kapal ini adalah Kayu Jati atau Kayu Besi. Proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama (tergantung ukuran kapal), biasanya 1-2 tahun, semakin besar ukurannya semakin lama waktu yang dibutuhkan.






Saya, di Tanah Beru - Bulu Kumba
Hal istimewa lainnya adalah Kepala Tukang atau Punggawa memimpin pembuatan kapal tersebut tanpa ada catatan sama sekali. Seorang Punggawa tidak pernah menuangkan desain kapal, detail ruang, perhitungan ukuran, dan sebagainya ke dalam catatan tulisan ataupun bentuk lainnya. Semua pengetahuan dan keahliannya tersimpan di dalam kepalanya dan diperoleh turun-temurun secara lisan.




Sebagai bangsa yang dianugerahi kebudayaan tradisional yang sangat kaya, pembuatan kapal ini juga tidak terlepas dari tradisi budaya. Mulai dari proses pemilihan kayu, penebangan, pembuatan, hingga peluncuran pertama tidak terlepas dari tradisi. Serangkaian upacara adat harus diikuti, hal ini bertujuan agar kapal yang dibuat dapat digunakan dengan baik dan selalu selamat kemanapun berlayar.

Adalah Bulu Kumba, sebuah kabupaten yang terletak di pesisir pantai sekitar 150 km ke arah Tenggara Kota Makasar. Di pesisir pantai tersebut bisa ditemui beberapa perkampungan pengrajin yang membuat kapal-kapal kayu hebat tersebut. Dari zaman dahulu, Makasar (Sulawesi Selatan) memang terkenal sebagai daerah asal pelaut-pelaut hebat, hingga saat ini pun ranah ini masih saja terkenal sebagai daerah tempat produksi kapal. Ditambah lagi dengan keindahan alamnya, kearifan lokal, dan beragam nilai eksotik lainnya, menjadikan ranah ini sebagai pelengkap kekayaan bangsa. Saya bangga menjadi Indonesia 


6 comments:

  1. Keren ya kapal Pinisinya. Aku teringat film bajak laut kalau lihat kapat seperti itu.

    ReplyDelete
  2. Hallo Mba Yelli, makasih sudah sowan.
    Iya mba kalau udah di laut jadi kaya kapal-kapal bajak laut gitu yahhh :D

    ReplyDelete
  3. Baru tau cerita Kapal Pinisi...TFS Mbak:)

    Pinisi ini jenis terbanyak yang ada miniaturnya untuk souvenir dll. Dan saya selalu kagum saat melihatnya, meski belum pernah berkesempatan lihat aslinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Mba Dian, sama mba, saya juga selalu terkagum-kagum, apalagi kalau liat aslinya mba, makin takjub deh

      Delete
  4. Jadi ingat cerita orang-orang yang selama hidupnya di samudera,
    mereka tidak mengenal daratan dan kaget saat ketemu daratan.
    Nenek moyang kita memang pelaut ya Mbak?
    thank

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi lagu anak-anak, "Nenek Moyangku Seorang Pelaut" itu ga asal bikin ya mba, hehehe
      Thanks for signing mba, cheers

      Delete

Air Terjun Nyarai, Wisata Anti-Mainstream di Sumatera Barat

Jam Gadang di Bukittinggi, Pantai Gandoriah di Pariaman, Istano Pagaruyung di Batusangkar, atau yang katanya mirip Raja Ampat Papua wisa...