Sunday, June 11, 2017

"Musibah" Dahulu, Anugerah Kemudian

Indonesia Bukan Hanya Sumatera dan Jawa

"Indonesia ini bukan hanya Sumatera dan Jawa saja, abdi negara harus siap untuk bertugas di seluruh wilayah Indonesia," kata perempuan paruh baya itu sengit. Saya langsung tertunduk sambil mengangguk-angguk pelan. Perempuan paruh baya itu adalah pimpinan tertinggi Biro Kepegawaian di instansi tempat saya bernaung. Perdebatan kami siang itu tidak merubah keputusan bahwa saya harus berangkat ke daerah yang telah ditunjuk.



Saya mendapat perintah untuk bertugas ke kantor UPTP (Unit Pelaksana Teknis Pusat) wilayah kerja Papua dan Papua Barat yang berlokasi di Kota Sorong, Papua Barat. Mendengar kata "Papua" saja, pikiran saya langsung terkoneksi kepada berbagai macam isu-isu negatif tentang daerah itu yang berkembang di masyarakat kebanyakan. Apalagi jika saya harus menetap dan bertugas di sana untuk beberapa lama, tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Makanya, ketika Surat Perintah Tugas (SPT) saya terima, saya benar-benar merasa mendapat "musibah" paling berat sedunia.

Sebagai seorang abdi negara yang bernaung di sebuah kementerian di negeri ini, saya menyadari bahwa wilayah kerja saya adalah seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Saya telah terikat sumpah dengan Tuhan dan negara bahwa saya bersedia untuk mengorbankan jiwa raga saya bagi negara, maka tidak ada alasan buat saya memilih-milih mau atau tidak untuk ditugaskan ke daerah-daerah tertentu. Ya, seperti yang Kepala Biro Kepegawaian saya sampaikan bahwa saya adalah abdi negara, negara ini begitu luas, tidak hanya Sumatera dan Jawa, dan setiap penjuru Indonesia ini butuh perhatian yang sama.

Theragran-M...? Apa itu...?


Dengan berat hati saya mengiyakan perintah tugas tersebut bersama empat orang rekan lainnya. Sebelum berangkat, kami disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan Papua merupakan daerah endemik Nyamuk Anopheles penyebar penyakit Malaria tertinggi di Indonesia, pemerintah tentu juga memikirkan kesehatan dan keselamatan kami selama bertugas di sana nantinya. Saya mendatangi seorang Dokter Spesialis Penyakit Dalam - Konsultan Penyakit Tropik Infeksi (Sp.PD-KPTI) di sebuah rumah sakit pemerintah. Ada beberapa tips yang disampaikan oleh dokter tersebut kepada saya, yaitu :
1. Saya harus meminum obat anti malaria seminggu sebelum, selama di sana, dan seminggu setelah pulang dari Papua.
2. Sebisa mungkin jangan menggunakan pakaian yang terbuka, hal ini untuk melindungi dari gigitan nyamuk. Bisa juga dengan selalu menggunakan krim anti nyamuk dan menggunakan pendingin udara bersuhu di bawah 20 derajat celcius, karena nyamuk tidak akan aktif pada suhu tersebut.
3. Untuk menjaga daya tahan tubuh, makanlah makanan yang bergizi dan lengkapi dengan minum multivitamin.
4. Segera hubungi pihak medis jika merasa demam yang disertai mual.


Kemudian, saya diberikan resep yang bertuliskan nama sebuah obat anti malaria dan Theragran-M, dokter itu menjelaskan bahwa Theragran-M merupakan multivitamin yang sangat bagus untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral pada tubuh. Vitamin dan mineral yang cukup bisa meningkatkan, mengembalikan, dan menjaga daya tahan tubuh serta membantu mempercepat proses penyembuhan setelah sakit. Maka tidak heran jika Theragran-M telah diresepkan oleh para dokter dari tahun 1976 lalu, membuktikan bahwa multivitamin ini aman, terpercaya, dan halal.

Halo, Papua !!!

Singkat cerita, berbekal restu dari keluarga dan tips kesehatan dari dokter, saya pun berangkat juga. Kedatangan kami disambut baik oleh rekan-rekan yang telah lebih dulu bertugas di wilayah ini. Kami bersama-sama bertekad untuk menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya sehingga misi pemerintah mengirimkan kami bisa tercapai dengan maksimal.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik pada Agustus 2016, Papua Barat memiliki tingkat pengangguran sebesar 7,46% dan masuk ke dalam 10 provinsi dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia. Hal ini sangat disayangkan, mengingat Papua sendiri merupakan wilayah kaya dengan sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya alam yang kaya akan menjadi maksimal jika ditunjang dengan sumber daya manusia yang bermutu juga. Itu lah tujuan pemerintah menunjuk kami untuk bertugas ke sana. Saya bersama rekan-rekan yang lain diberi amanah untuk memberikan pelatihan (berbagai macam kompetensi) kepada para pencari kerja di daerah Papua dan Papua Barat, dengan harapan dapat mengurangi tingkat pengangguran di Papua dan Papua Barat dan tentu saja dapat meningkatkan taraf kesejahteraan hidup masyarakat Papua nantinya.

Untukmu Papua


Pelatihan-pelatihan tersebut menyasar para pencari kerja usia produktif yang ada di Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua, baik yang berada di kota maupun yang berada di daerah pelosok. Hal ini tidak terlalu menyulitkan jikalau pelatihan diadakan di kota-kota yang telah berkembang, seperti Sorong dan Jayapura, karena di kedua kota tersebut pemerintah telah menyediakan workshop-workshop dengan fasilitas yang layak dan lengkap. Para pencari kerja yang ingin mengikuti pelatihan, tinggal datang, memenuhi syarat-syarat administrasi, kemudian ikuti pelatihan, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Begitu juga dengan kami, para instruktur, tidak akan terlalu kesulitan, karena fasilitas bagi kami juga sudah cukup baik.


Bersama peserta pelatihan di Kota Jayapura


Bersama peserta pelatihan di Kota Sorong

Akan tetapi daerah yang sedang menggeliat dan melakukan banyak pemekaran daerah  ini membuat kami sedikit kewalahan. Derah-daerah baru hasil pemekaran tersebut biasanya terletak cukup jauh dari kota, bahkan beberapa daerah merupakan pulau-pulau kecil yang banyak tersebar di seputar pulau Papua ini. Daerah-daerah ini tentu saja belum memiliki akses sebaik daerah-daerah yang telah berkembang lebih dulu, tentu juga belum memiliki fasilitas workshop dan peralatan pelatihan yang memadai seperti di Jayapura dan Sorong. Hal itu tidak menyurutkan semangat kami untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan di daerah-daerah itu, walau harus menghadapi banyak rintangan dan tantangan.


Antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan pelatihan

Romantika Papua 

Tranportasi yang belum semaju daerah asal saya merupakan tantangan pertama yang harus kami taklukkan. Untuk mencapai daerah tersebut, kami harus melakukan perjalanan beberapa jam melewati track yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan jenis-jenis tertentu. Terkadang, walaupun secara geografis lokasinya tidak terlalu jauh dari kota, namun akses jalan yang belum terbuka memaksa kami melakukan perjalanan udara dan transit di beberapa kota, hal ini tentu membuat perjalanan kami semakin lama. Jangan bayangkan pesawat yang kami naiki adalah pesawat berbadan besar yang muat ratusan orang, beberapa daerah di sini hanya bisa didarati oleh pesawat-pesawat kecil yang hanya muat belasan penumpang saja, itupun tidak pasti beroperasi setiap saat, tergantung keadaan cuaca. Sedangkan untuk pelatihan-pelatihan di pulau-pulau kecil, harus menempuh perjalanan laut selama beberapa jam menggunakan transportasi umum (jika ada). Jikalau belum tersedia transportasi umum, maka kami harus mencari tumpangan ke nelayan-nelayan atau ke kapal-kapal barang yang akan melewati pulau-pulau tujuan 


Pengalaman pertama naik pesawat ukuran kecil ini.
Sampai seminggu kemudian, lutut masih berasa gemetar, hahaha


Mobil yang digunakan untuk mencapai tempat pelatihan yang sulit dijangkau.



Armada untuk menuju pelatihan di pulau-pulau kecil, kapal kayu ini hanya beroperasi 2 x seminggu.


Disaat air laut surut, kapal tidak dapat merapat ke dermaga.
Perjalanan harus dilanjutkan dengan menggunakan perahu-perahu nelayan seperti ini.

Akomodasi menjadi tantangan berikutnya. Jangan harap ada hotel ber-AC untuk tempat beristirahat dengan nyaman setelah beraktifitas. Biasanya pemerintah daerah setempat akan menitipkan kami ke rumah-rumah penduduk. Maka selama program pelatihan berlangsung, kami akan tinggal di rumah-rumah penduduk dan berbaur bersama mereka.


Suasana pembukaan pelatihan
 Walau berasal dari pulau-pulau yang letaknya berjauhan, namun semua peserta tetap bersemangat.

Bagaimana dengan komunikasi? Satu-satunya alat komunikasi yang bisa digunakan di daerah-daerah tersebut adalah alat komunikasi bawaan lahir, mulut. Secanggih apapun Smartphone yang dibawa tidak akan bisa digunakan sebagaimana biasanya, tidak akan ada jaringan 3G/4G untuk berselancar di dunia maya. Bisa menangkap jaringan telepon 1-2 balok saja, sudah luar biasa senangnya, itupun hanya sesekali.


"Blusukan" keluar masuk kampung mengajak masyarakat mengikuti pelatihan.



Listrik yang hanya menyala beberapa jam setiap malamnya, hiburan yang hanya didapat dari suara-suara alam, air bersih yang minim, suhu dan cuaca yang berubah-ubah, dan berbagai macam tantangan lainnya menjadi hal-hal sulit yang harus saya lewati. Tidak jarang segala tantangan dan keterbatasan tersebut membuat kondisi fisik saya cepat menurun, saya mudah sekali sakit. Ditambah lagi kecapaian dan jam istirahat yang kurang plus pikiran-pikiran negatif yang memicu stres juga membuat tubuh saya semakin rentan untuk sakit. Maka, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya harus memenuhi kebutuhan tubuh saya, seperti istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, memperhatikan asupan makanan, serta mencukupi vitamin tubuh.


Kemanapun bertugas, Theragran-M selalu menemani.

Jikalau kondisi tubuh saya terlanjur drop, maka untuk mengembalikan kondisi tubuh saya setelah sakit, saya akan minum Theragran-M secepatnya. Seperti yang dokter tempat saya berkonsultasi sebelum berangkat dulu sarankan, sebaiknya mengkonsumsi Theragran-M untuk membantu proses penyembuhan. Memang semenjak dokter itu memberikan Theragran-M dan saya rasakan sendiri khasiatnya, saya tidak pernah lupa lagi membawa Theragran-M kemanapun saya bertugas. Dengan demikian kondisi fisik saya bisa kembali prima, saya pun bisa beraktifitas kembali, dan semua target pelatihan saya dapat terlaksana sesuai rencana.


Di saat foto ini diambil, fisik saya benar-benar sedang tidak fit (terlihat jelas dari mata saya)
namun melihat antusias mereka, seketika rasa lemas dan lelah saya hilang.
Saya segera minum Theragran-M, untuk memperbaiki daya tahan tubuh saya.

Waktu terus berjalan, daerah demi daerah di ranah ini pun saya kunjungi. Semua ketakutan-ketakutan yang saya khawatirkan sebelum berangkat dulu sirna. Segala macam rintangan dan tantangan yang saya hadapi selama bertugas menjadi tidak terasa, ketika saya bertemu dengan mereka. Antusiasme, rasa ingin tahu yang tinggi, respect yang terkadang mengharukan membuat lelah saya sirna. Ada rasa bahagia luar biasa, ketika ada peserta pelatihan yang datang ke kediaman kami, memberikan hasil kebun mereka sebagai ucapan terima kasih untuk pelatihan yang telah kami adakan untuk mereka. Bukan, bukan soal hasil kebun yang mereka berikan itu, namun melihat senyum lebar di wajah mereka dan kilatan harapan di mata mereka, membuat saya merasa menjadi manusia paling bahagia di saat itu.

Terima Kasih Papua

Tidak terasa masa tugas saya di Ranah Cenderawasih pun harus berakhir. Saya mendapatkan banyak pelajaran berharga selama bertugas di sana, tentang kesederhanaan, toleransi, kebersamaan, perjuangan, dan ketulusan. Tugas negara yang saya anggap musibah dan saya laksanakan dengan berat hati di awal, malah menjadi anugerah dalam hidup saya dan saya syukuri pada akhirnya. Saya yang awalnya berniat untuk melatih mereka, mengajarkan mereka sedikit ilmu yang saya punya, malah sebaliknya saya yang belajar banyak kepada mereka. Semenjak saat itu saya tidak pernah lagi menolak perintah tugas kemanapun, karena saya yakin pasti ada hikmah di balik setiap peristiwa yang saya jalani. Perjalanan tugas kali ini benar-benar membuat hidup saya terasa lebih hidup, ketika saya bisa menaklukkan tantangan-tantangan dalam hidup saya, menepikan segala ketakutan-ketakutan saya, dan saya bisa bermanfaat bagi orang lain.


Papua, I am in love




Disclaimer : Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M

31 comments:

  1. ini nyang namenye ambil hikmahnyee...

    ReplyDelete

  2. wah luar biasa ya mba... bisa masuk smpe pelosok2 negeri Papua.. padahal kan disana daerah malaria ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mba, saya tidak terjangkit :)

      Delete
  3. Inspiratif sekali.. bertugas hingga ke pelosok pelosok negeri ini, jauh dari keluarga, demi mencerdaskan anak-anak bangsa.
    Atas nama rakyat, saya berterimakasih, perjuangan mba sebagai abdi negara sunggu luar biasa. Semoga selalu diberi kesahatan, dimana pun bertugas saat ini, dan semoga selalu bermanfaat bagi orang banyak.
    Keep inspiring yaa ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhh mas/mba, kok saya jadi terharu gini, masih banyak kok mba abdi negara yang bertugas di seluruh pelosok indonesia ini, semoga semua selalu dilindungi-Nya

      Delete
  4. hebat yo uni awak ko,sukses dan sehat taruih uni ke

    ReplyDelete
  5. hebat yo uni awak ko,sukses dan sehat taruih uni ke

    ReplyDelete
  6. Itu vitamin apaan mbak? Kok baru dengar...

    ReplyDelete
  7. Mantap mbak...semoga sukses dan semakin jaya dimanapun kau berada sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiinnn...makasih mas, doa yang sama untuk mu

      Delete
  8. wawwwww, inspiratif sekali kakak ini
    :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe biasa aja sis, makasih udah mampir,,cheers :)

      Delete
  9. Luar biasa, pengabdian menembus pelosok.. semoga selalu diberi kesehatan dalam menjalankan tugas mbak.. salam hormat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, Aamiinnn...makasih mas. Dia yang sama buat mas dan keluarga :)

      Delete
  10. Wahh keren dan sangat menginspirasi ya mbak perjuangannya. Oya kalau untuk dapetin vitamin theragran itu dimana ya mbak? Di apotik2 gitu ada gak ya? Kayaknya bisa jadi referensi saya berhubung kegiatan saya sedang padat dan badan jadi sering lemas. Jadi butuh vitamin tambahan. Thx

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di apotek2 Papua aja sudah ada kok mba, apalagi di daerah lainnya, hehe

      Delete
  11. Salut mba, pengalaman yg mengesankan, pilihan hidup yg sangat berani. Semoga mendatangkan anugerah-anugerah yg lain, semangat terus menjalankan tugas ya mba. Semoga selalu diberikan kelancaran dan kesehatan dalam menjalankan tugas di mana pun berada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya, (di awalnya) ini pilihan yang dipilihkan atasan ini mba,,hehehe.
      Aamiiinnn...makasih mba, doa yang sama untukmu :)

      Delete
  12. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinnn...makasih pak, doa yang sama buat bapak dan keluarga, salam.

      Delete
  13. Kereen sekali, mb. Butuh orang-orang hebat seperti Mbak agar negara ini makin hebat. Karena hanya orang hebat yang bisa mengemban tugas itu

    Salut 👍👍

    ReplyDelete
  14. Serunya dapat pngalmn n teman2 beru di Papua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu hal yang saya syukuri mba, memiliki teman dan keluarga baru dari daerah yang tidak pernah saya kira :)

      Delete
  15. Lihat pesawat itu, saya jadi ingat masa2 tugas di Aceh saat project tsunami recovery. Untuk ke pulau2 terpencil kami juga naik pesawat jenis ini, Mba. Eits, pilotnya bule2 cantik dan tampan2,lho.Haha,gagal fokus.

    Saya blm pernah ke Papua, Mba. Pengen,euy!

    ReplyDelete
    Replies
    1. What an honour dikomen mba yang satu ini, hehehe
      Iya mba pilotnya mayan bikin deg-degan karena turbulence berkurang wkwkwk
      Ayo ke Papua mba, Raja Ampat memanggil hihiihi

      Delete
  16. Wah dinas di Papua, kebayang serunya, mengenal kebudayaan dan teman2 baru. TFS ceritanya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, terimakasih banyak udah mampir mba. Alhamdulillah, banyak suka nya kok dibanding dukanya.

      Delete

Sehari di Mui Ne -Vietnam, Kemana Aja..??

Buat yang memiliki impian wisata ke gurun pasir tapi belum punya cukup budget untuk ke timur tengah, maka solusinya adalah datang ke V...