Monday, May 22, 2017

Rammang-Rammang, The Hidden Paradise di Kabupaten Maros

Maros adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, yang terletak sekitar 28 km dari bandara Sultan Hasanudin Makasar. Nama Maros mulai terkenal beberapa tahun belakangan ini karena beredarnya foto sebuah kampung yang dikelilingi oleh pegunungan karst (batu kapur) dengan suasana yang masih sangat alami. Kampung tersebut adalah Desa Rammang-Rammang, konon di tetapkan oleh UNESCO sebagai situs world heritage dunia sejak tahun 2001, konon wilayah Rammang-Rammang ini merupakan wilayah pegunungan karst terluas ketiga di dunia, setelah pegunungan karst di Madagaskar dan Cina.


Selain Desa Rammang-Rammang, masih ada beberapa tempat wisata keren lainnya yang terdapat di Kabupaten Maros ini. Rata-rata adalah tempat wisata alam berupa air terjun, goa-goa, taman, dll. Dengan postingan yang berbeda nanti akan saya uraikan 3 tempat wisata alam keren di Maros yang saya kunjungi (Rammang-Rammang, Leang-Leang, dan air terjun Bantimurung) dalam waktu 8 jam. Kenapa hanya 8 jam?? Karena saya harus mengejar travel terakhir ke Tanjung Bira, Bulu Kumba (akan diceritakan di postingan selanjutnya).

Transportasi Umum ke Rammang-Rammang

Biar gampang saya akan memulai cerita perjalanan ini dari Bandara International Sultan Hasanuddin. Dari bandara kita bisa menggunakan angkot (di Makasar disebut pete-pete), namun sayangnya pete-pete hanya ada di jalan raya yang berjarak sekitar 2,5 km dari bandara. Bagi yang suka jalan dan tidak membawa tentengan banyak, bisa ditempuh dengan jalan kaki, sekitar 15-20 menit saja. Sedangkan bagi yang merasa kurang enak buat jalan kaki (seperti saya) bisa menggunakan ojek (tarifnya sekitar 20 ribu, tergantung keahlian menawar).

Sesampainya di jalan raya, naiki pete-pete jurusan Pangkep, ingat Pangkep ya bukan Maros. Jika naik jurusan Maros, maka nanti harus ganti angkot sekali lagi. Sebelum naik angkot, jangan lupa pastikan kepada supir bahwa itu angkot benar-benar ke Pangkep. Ongkosnya 7.500 Rupiah, lebih baik bayar dengan uang pas dan gaya mantap, karena saya tertipu ditarik ongkos 12 ribu, mungkin kelihatan bukan penduduk setempat.

Minta turun di pertigaan Pabrik Semen Bosowa, atau bisa juga bilang pertigaan ke Rammang-Rammang. Dari pertigaan itu, dermaga ke Karst Rammang-Rammang masih berjarak 800 m lagi. Lagi-lagi berdasarkan kemampuan, jika merasa mampu bisa dengan jalan kaki, sedangkan bagi yang kurang mampu seperti saya bisa naik ojek. Tarif ojek sampai ke dermaga 2 adalah 15 ribu Rupiah. Namun, di perjalanan saya ditawari oleh tukang ojeknya untuk mengunjungi Leang-Leang dan Taman Bantimurung juga, setelah tawar menawar harga, disepakatilah harga 100 ribu Rupiah untuk perjalanan ke 3 tempat tersebut.

Ada 2 dermaga yang bisa jadi pilihan kita untuk memulai perjalanan ke Karst Rammang-Rammang ini, dermaga 1 lebih dekat ke jalan dan dermaga 2 yang lumayan jauh ke dalam. Tukang ojek itu mengantarkan saya ke dermaga 2, walaupun cukup jauh dari jalan raya, namun pemandangan persawahan dengan batu-batu karst tinggi besar menjulang membuat saya tidak menyesal harus basah-basahan lebih lama sama tukang ojek tersebut (fyi, cuaca gerimis).

Untuk mencapai Karst Rammang-Rammang, dari dermaga 2 ini kita harus menyusuri Sungai Pute dengan sampan bermotor yang disewakan oleh para penduduk. Harganya berkisar antara 150 - 350 ribu Rupiah, tergantung jumlah penumpang, harga tersebut sudah untuk perjalanan PP. Jangan takut tertipu (lagi) dengan harga sewa sampan tersebut, karena ada pemberitahuan harga resmi yang di tempel di dinding dermaga tersebut.

Perjalanan menyusuri Sungai Pute akan memakan waktu sekitar 20 menit. Tidak perlu khawatir selama perjalanan, karena sungai yang disusuri adalah sungai berair tenang, dengan pemandangan alam yang masih alami di sekelilingnya. Menerobos celah karst sempit, menerobos hutan bakau, pemandangan batu karst yang menjulang, ataupun melihat beberapa hewan air berenang. Salah satu yang menarik disini adalah adanya rambu-rambu, tak ubahnya seperti di jalan raya, demi kelancaran lalu lintas sampan maka di setiap beberapa meter terpasang rambu-rambu.
Sampan yang disewa untuk menyusuri sungai
Sampan tersebut akan mengantarkan kita ke sebuah desa wisata bernama Desa Berua, sebelum masuk kita akan dipungut retribusi 3.500 ribu Rupiah (kalau tidak salah). Di desa ini kita akan menemukan pemandangan alam luar biasa. Alam hijau, persawahan, itik-itik ribut berenang di kolam, serta pegunungan karst yang menjulang berkeliling. Sayangnya, saya datang ketika hujan, jadinya hasil jepretan kamera saya kurang maksimal.

Fasilitas di desa ini sudah cukup lengkap, ada musholla, toilet umum, gazebo untuk sekedar istirahat, juga sebuah warung. Ada himbauan untuk selalu menjaga kebersihan, diiringi dengan tersedianya tempat sampah di tempat-tempat tertentu.

Setelah puas foto-foto dan istirahat sejenak, dengan berjalan kaki kita bisa lanjutkan ke arah kanan dermaga. Menyusuri pematang sawah selama 5 menit kita akan sampai ke sebuah bukit (kalau tidak salah namanya Padang Ammarung) dengan hamparan batu karst kombinasi pemandangan hijau sekelilingnya, luar biasa eksotiknya. Di bukit ini  terdapat beberapa warung berbentuk rumah panggung yang menjual minuman seperti kopi atau teh dan pisang goreng, benar-benar berasa di kampung hehehe.
Padang Ammarung
Selain itu, katanya kita bisa juga tracking ke sebuah goa bernama Goa Kelelawar, namun track nya belum terlalu bersahabat di cuaca basah tersebut untuk seorang mama-mama imut seperti saya. Jadinya saya mengurungkan untuk ikut rombongan yang tracking ke sana.

Beberapa tips untuk kamu yang ingin mengunjungi Karst Rammang-Rammang :
1. Usahakan datang pagi hari, karena kalau sudah siang, pengunjung akan lumayan padat (in case weekend) dan juga matahari sudah cukup menyengat (jangan lupa pakai sunblock).

2. Track di Desa Berua adalah jalan tanah yang kalau hujan akan lumayan berlumpur, sedangkan track di Bukit Bendera dan Goa Kelelawar adalah track berbatu kapur yang tajam. Jadi, persiapkan alas kaki yang nyaman dan sesuai untuk track tersebut.

3. Jangan bawa barang atau tentengan berlebihan, akan merepotkan ketika tracking nantinya.

4. Jangan lupa bawa kamera berresolusi baik, sayang sekali kalau view luar biasa ini hanya jadi kenangan tanpa bukti, hihihi.

5. Kalau datang hanya sendiri atau berdua, lebih baik menunggu rombongan grup kecil lainnya supaya bisa share cost naik sampan.

1 comment:

  1. Maros itu sulawesi selatan kan yaa ? Aku dulu pernah tinggal disana dan emang pemandangannya bagus2. Di poso juga aduh .. Keren

    ReplyDelete

Panduan Traveling ke Ho Chi Minh City - Vietnam

Mendengar beragam cerita kurang sedap tentang Vietnam malah membuat saya semakin penasaran dan tidak sabaran untuk mendatanginya. Berb...