Friday, February 3, 2017

Penerjemah

Beberapa waktu lalu, saya ditelpon oleh seorang teman baru. Namanya Mas Irfan, seorang local guide di kota yang mahsyur dengan destinasi wisata bahari nya ini. Mas Irfan minta bantuan saya untuk pekerjaan yang ditekuninya. Bulan depan ia akan meng-guide sebuah grup bule. Nah, masalahnya adalah Mas Irfan tidak terlalu mahir berbahasa inggris, dan ini adalah grup bule pertama yang ia handle. Karena kendala bahasa tersebut, Mas Irfan tidak pernah berani menerima grup bule sebelumnya. 



"Bantu saya buat jadi translator mba, sekalian jalan-jalan, Mba kan belum pernah kesana" bujuknya waktu itu.

Hal ini bukan hal baru bagi saya, gelar akademis yang tersemat di belakang nama saya hari ini, sekian persennya dibiayai dengan hasil saya bergelut di dunia per-translate-an itu. Awalnya karena diajak seorang teman main saya, yang minta tolong saya jadi "translator" buat temannya yang ingin berselancar ke pulau seberang.

"Lu kan udah biasa nerima translate-an orang (saya penyedia jasa translate buku/makalah/jurnal, dll waktu itu), pasti lu bisa juga jadi translator langsung gitu" jawabnya ketika saya bilang saya tidak PD jadi translator bule gitu.

Hampir semua orang yang saya temui beranggapan bahwa  seseorang yang bisa menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lain di sebagai translator. Pun, ketika saya akhirnya menjadi translator teman bule-nya teman saya itu, saya pun memperkenalkan diri sebagai seorang translator kepada setiap orang yang bertanya. Padahal sebenarnya tidak semua orang yang bisa menerjemahkan disebut translator. Berikut akan saya jelaskan secara detail.

Translator selama ini dialamatkan ke orang-orang yang bisa menerjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lain, baik secara lisan maupun tulisan. Padahal, istilah translator lebih tepatnya digunakan buat seorang penerjemah bahasa yang melakukannya secara tulisan.  Atau dengan kata lain, translator mengalihbahasakan sebuah teks dari satu bahasa ke bahasa lain.

Berbeda dengan seorang penerjemah yang bekerja langsung secara lisan, lebih tepatnya disebut sebagai seorang interpreter. Interpreter dalam bahasa Indonesia berarti juru bahasa yang mengalihkan satu bahasa ke bahasa lain secara lisan.

Contoh :
Seorang ASN yang menerjemahkan sebuah buku berbahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia, maka ia disebut sebagai translator dan kegiatannya disebut translating, karena ia bekerja menghasilkan teks. 

Sedangkan saya yang meng-handle grup bule Mas Irfan nanti dan membantu mereka dalam berbahasa, maka saya lebih tepat disebut sebagai interpreter dan kegiatab saya disebut interpreting, sebab saya menerjemahkan langsung secara lisan.

Saya sudah pernah melakoni keduanya, kira-kira mana yang lebih sulit?. Tentu saja lebih menjadi translator sedikit lebih ringan dibandingkan interpreter, karena ketika menemui kata-kata sulit, seorang translator masih memungkinkan untuk membuka kamus terlebih dahulu. Sedangkan interpreter, menghadapi bule yang berasal dari daerah yang berbeda dengan dialek yang berbeda pula, mengharuskan seorang interpreter memiliki keterampilan untuk memahami dengan cepat serta kemampuan untuk memberikan penjelasan sereseptif mungkin.

Jadi, translator apa interpreter???

2 comments:

  1. Wah saya baru tahu nih sama istilah interpreter. Ckckck. Makasi ya Mba.

    ReplyDelete
  2. dua-duanyaa, hehehe... translate atau interpret sama2 asyik, hihhi

    ReplyDelete

Cara dari Vietnam ke Kamboja Via Darat (Bus)

Setelah semalam di Ho Chi Minh City (HCMC) atau yang dulunya disebut juga dengan nama Saigon, tujuan saya selanjutnya adalah negara tet...