Tuesday, January 24, 2017

All About My Dreams

Setelah mama-papa memutuskan berpisah, saya diadopsi amak (nenek-red) dan pindah ke kampung. Kehidupan di kampung dengan penghasilan nenek sebagai janda pensiunan pegawai rendahan yang hanya beberapa ratus ribu setiap bulannya, memaksa kami harus hidup sederhana dan bekerja keras, setiap hari sepulang sekolah saya bersama nenek ke kebun belakang rumah yang tak seberapa luas, sekadar mencari kayu bakar atau merawat pohon kopi yang berselang-seling pohon pisang, kemudian memanen hasilnya yang cukup lumayan buat menambah jajan kami berdua. 






Amak selalu menekankan satu hal kepada saya, "kamu boleh sederhana di faktor ekonomi, namun kamu harus luar biasa di bidang akademis" begitu selalu bisik amak kepada saya waktu itu. Hal itu selaras dengan usaha amak membentuk saya, setiap hari amak akan membangunkan saya jam 4 subuh untuk belajar dan mengulang pelajaran sekolah. "Subuh itu otak masih fresh, jadi nya ilmu lebih cepat masuknya" jelas amak kalau ditanya kenapa harus belajar terlalu pagi.


Ternyata yang amak katakan benar, saya boleh dibilang cukup bagus untuk bidang akademis. Namun, untuk faktor ekonomi, Kami tidak berubah banyak, masih sesederhana yang dulu, bergantung kepada uang pensiunan amak, terbantu dengan kopi dan pisang dari hasil kebun, dan beasiswa untuk bayar SPP sekolah saya.

Dibalik kesederhanaan kami itu, saya menyimpan sebuah cita-cita besar, yang menurut amak hanya angan-angan. Saya bercita-cita menjadi dokter, cita-cita yang sudah saya ucapkan dari balita dulu. Amak hanya tercenung mendengarkan cita-cita saya itu, kemudian amak berkata dengan nada suara datar, "Itu hanya angan-angan nak, tidak bagus orang seperti kita berangan-angan terlalu tinggi, nanti kalau jatuh sakit".
Mendengar jawaban amak saya hanya tertunduk, jawaban ini sudah saya prediksi. Pendidikan untuk seorang dokter tidaklah murah, dan siapalah saya yang berani-beraninya bercita-cita semahal itu. 

Sebenarnya masih banyak hal lagi yang amak tegur tentang mimpi dan cita-cita saya yang menurut amak ketinggian. Salah satu yang paling lucu menurut saya adalah ketika amak melarang saya berteman dengan orang-orang tingkat ekonomi atas. Menurut amak, bermain dengan mereka akan membuat saya ingin memiliki seperti apa yang mereka miliki, sedangkan amak dijamin tidak akan mampu untuk itu. Namun, syukurnya saya bukan tipe yang ingin seperti orang lain, saya berteman dengan siapa saja, tidak memandang apapun.

Mungkin ajaran amak seperti itulah yang membuat saya sering minder, apalagi kepada lawan jenis. Sampai SMA, saya tidak punya teman spesial, seperti teman-teman saya lainnya. Bukan, bukan karena tidak ada yang suka. Saya punya banyaakkk teman lawan jenis, beberapa dari mereka ada yang bilang suka ke saya, namun saya sangat merasa tidak pantas waktu itu. Merasa tidak menarik, tidak cantik, tidak kaya, tidak terpandang, dan masih banyak tidak-tidak lainnya. Hal seperti itu bertahan cukup lama, hingga saya masuk universitas, sedikit demi sedikit saya mulai bisa terlepas dari beban mental tersebut.

Bagi saya kerasnya masa lalu akan menjadi pelajaran berharga di masa kini. Saya sudah terbiasa bermimpi dan saya pun telah terlatih mematikan mimpi-mimpi saya itu tanpa ada penyesalan. Pun semua impian dan cita-cita saya hari ini untuk di masa datang, saya telah bersiap untuk memusnahkannya, dan bersedia untuk tidak mendapatkan apa-apa. Orang seperti saya sudah terbiasa...

*Kisah ini terinspirasi dari cerita hidup uni I, sang perempuan hebat yang mampu mewujudkan satu persatu mimpinya yang semula terlihat impossible

No comments:

Post a Comment

Cara dari Vietnam ke Kamboja Via Darat (Bus)

Setelah semalam di Ho Chi Minh City (HCMC) atau yang dulunya disebut juga dengan nama Saigon, tujuan saya selanjutnya adalah negara tet...