Wednesday, October 26, 2016

Belati

Akulah perempuan, ibuku mewariskanku sebilah belati tajam. Tak terlalu panjang, hanya sedepa, dan berhulu perak berkilauan. "Dengarlah nak, belati ini penghilang rasa amarah dan kecewa" kata Ibu sewaktu menyerahkan belati itu dulu. "Semua rasa terlahir dari hatimu termasuk amarah dan kecewa, maka berhati-hati lah engkau menjaga belati ini dan hatimu" sambungnya lagi. Saat itu aku tidak paham sepenuhnya maksud perkataan Ibu. Aku terlanjur terlalu gembira menerima belati indah pemberian Ibu.



Waktu terus berjalan, belati pemberian Ibu masih kujaga seperti permintaannya dulu. Berbagai macam rasa amarah dan kecewa pernah kualami, tapi semua bisa kulewati, mungkin karena belati ini ada bersamaku.

Sampai pada suatu ketika, aku menemukan rasa amarah dan kecewa yang amat sangat. Belum pernah rasanya aku merasakan amarah dan kecewa sehebat itu. Berbagai macam cara telah kulakulan untuk mengusir rasa amarah dan kecewa itu. Namun aku selalu gagal, amarah dan kecewa kali ini begitu hebat. Berpendaran seperti kembang api tahun baru dan bergemuruh hebat seperti air terjun di musim hujan. Berhari-hari aku tersiksa dengan amarah dan kecewa ini.

"Dengarlah nak, belati ini penghilang rasa amarah dan kecewa", tiba-tiba wasiat Ibu terngiang di telingaku. "Semua rasa terlahir dari hatimu termasuk amarah dan kecewa" kembali terngiang wasiat Ibu selanjutnya. Spontan aku menemukan jalan keluar mengusir amarah dan kecewa bandel ini. Hati sebagai sumber amarah dan kecewa, dan belati pemberian Ibu sebagai penghilang rasa amarah dan kecewa itu. Nah, aku tahu apa yang harus kulakukan. Yah, aku punya belati pemberian Ibu. Kuraih belati itu yang berkilauan tertimpa cahaya lampu. Inilah penghilang amarah dan kecewa. Kemudian kuraba dadaku, dari sinilah sumbernya rasa keparat itu. 

Kuhunuskan belati itu, ku arahkan ke dadaku. "Duhai hati, inilah benda yang bisa menghentikanmu menghasilkan amarah dan kecewa untukku" bisikku lirih.

Sekuat tenaga ku hujamkan belati itu ke dadaku. Terasa perih, perih sekali, namun perih ini tak seberapa dibanding perih akibat amarah dan kecewa tadi. Wah luar biasa, seketika amarah dan kecewa yang dari kemarin menderaku hilang. Hanya menyisakan sedikit goresan sesak di dada saja. Aku tersenyum, memang Ibu tak pernah bohong, belati itu mujarab sekali.

Aku membiarkan belati itu bersarang dihatiku. Kubiarkan perihnya sesekali membuatku meringis. Begitu seterusnya, setiap rasa amarah dan kecewa mencoba mendera, akan kuhujamkan belati itu lebih dalam. Semenjak saat itu, tak pernah lagi aku tersiksa karena rasa amarah dan kecewa. Rasa itu akan segera menghilang secepat aku menghujamkan belati pemberian Ibu lebih dalam.

Akulah perempuan, ibuku mewariskanku sebilah belati. Akulah perempuan yang menghujamkan belati ke hatiku. Akulah perempuan dengan belati di dadaku.


#warungkopibiasa, di suatu masa

No comments:

Post a Comment

Air Terjun Nyarai, Wisata Anti-Mainstream di Sumatera Barat

Jam Gadang di Bukittinggi, Pantai Gandoriah di Pariaman, Istano Pagaruyung di Batusangkar, atau yang katanya mirip Raja Ampat Papua wisa...